Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Adab Bertamu

1. Pengertian adab bertamu


Dalam ajaran Islam ada dua konsep yang harus ditegakkan, yaitu Hablum minallah  dan Hablum minannas, Hablum Minallah artinya melakukan hubungan dengan Allah, sedangkan Hablum minannas artinya melakukan hubungan antar sesame manusia.  Bertemu termasuk salah satu dari kegiatan hablum minannas. Jika demikian, apa bertamu itu sebenarnya?
Bertamu adalah berkunjung ke rumah orang lain dalm rangka mempererat silaturahim.  Maksud orang lain di sini adalah tetangga, saudara (sanak famili), teman sekantor, teman seprofesi dan sebagainya.  bertemu tentu ada maksud dan tujuannya, antara lain menjeguk yang sedang sakit, ngobrol-ngobrol biasa, membicarakan bisnis, membicarakan masalah keluarga keluarga dan sebagainya.
Apapun alasannya, seseorang berkunjung kerumah orang lain (bertamu) tidaklah menjadi persoalan.  Yang jelas bertamu itu pada hakekatnya mempererat silaturahmi atau tali persaudaraan.  Orang suka bersilaturahmi akan dilampangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, sebagaimana hadis Rasulullah saw, dari riowayat Abu Hurairah:


قَالَـ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ اَحَبُّ اَنْ يُبْسَـطَ
لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَـاَلَهُ فِى اَثَرِهِ فَلْيَصِـلْ رَحِمَهُ.
﴿رواه البخارى ومسـلم عن أبى هريرة﴾

Artinya :
“Sabda Rasulullah saw.”Burung siapa yang menginginkan diperluas rezekinya dan diperpanjang umurnya maka sebaiknya ia bersilaturahmi.”  (H.R Bukhari Muslim)

Mempererat tali silaturahim, baik dengan tetangga, sanak saudara maupun teman sejawat merupakan perintah agama islam agar senantiasa membina kasih sayang, hidup rukun, tolong menolong, saling membantu antara yang kaya dengan yang miskin dan memiliki kesempatan dengan yang mengalami kesempitan.
Silaturahim tidak saja menghubungkan tali persaudaraan, tetapi juga akan banyak menambah wawasan, pengalaman karena pada saat berinteraksi terdapat pembicaraan-pembicaraan yang berkaitan dengan masalah-masalah perdagangan atau penghasilan, sehingga satu sama lain akan mendapatkan pandangan baru tentang usaha pendapatan rezeki dan sebagainya.
Suasana yang dialami bagi orang yang biasa bersilaturahmi, hidup menjadi lebih menyenangkan, nuaman, dan hati menjadai tentram sehingga hidup ii merasa luas dan lega seakan umur bertambah, walaupun kenyataan yang sebenarnya umur atau ajal manusia sudah ditentukan jauh sebelum ia dilahirkan oleh Allah Swt.
Sabda Rasulullah saw. yang lain dari riwayat Aisyah:

قَالَـ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِلَةُالرَّحِمِ وَحُسْنُ
اْلخُلُقِ اْلجَوَارِيُعَـمِّرْنَ الدِّيَارَوَيَزِدْنَ فِى اْلاَعْـمَارِ.
﴿رواه أحـمدوالبيـهـقى عن عاشة﴾
Artinya :
“Sabda Rasulullah saw:” Bersilaturahmi, baik budi pekerti dan bertetangga yang baik, akan meramaikan kampong dan dapat menabah umur.” (H.R Ahmad dan Baihaqi dari Aisyah)

Hadis tersebut menambahkan selain bersilaturahmi, berakhlak yang baik (Husnul Khuluq) dan bertetangga yang baik (Husnul Jawari) dapat pula mencptakan suasana yang menyenangkan dan lebih semarak dalam hidup bermasyarakat.
Karena itu ajaran islam member tuntunan atau tatakrama dalam berinteraksi antar sesama misalnya bertamu dan yang menerima tamu.

http://videomuslim.com/wp-content/uploads/2011/11/Bertamu-ke-Rumah-Teman.jpg 2. Contoh adab bertemu Dalam bertamu ada beberapa tata cara atau adab yang harus diperhatikan, agar suasana pertemuan tidak rusak karena adanya hal-hal yang tidak berkenan dihati masing-masing pihak. Diantara tata cara itu contohnya yaitu sebagai berikut :
a)      Sebelum memasuki rumah seseorang, kita harus meminta izin terlebih dahulu dengan mengucapkan salam, jika tuan rumah mempersilahkan kita masuk, berulah kita masuk ke ruamahnya dengan sopan.
Perhatikan firman Allah Swt :

يَآيُّـهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالأَتَدْخُلُوْابُيُوْتًاغَيْرَبُيُوْتِكُـمْ حَتىَّ تَسْتَأْنِسُوْا
وَتُسَلِّمُوْاعَلى اَهْـلهَاقلىذلِكُمْ خَيْرُلَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَ كَّرُوْنَ.
﴿النور:٢٧﴾

Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu masukin rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan member salam kepada penghuninya.  Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (Q.S An-Nur:27)

b)      Sebagai tamu, apabila kita tidak mendapati tuan rumah, atau merasa tidak diterima oleh tuan rumah karena satu dan lain hal maka tinggalkanlah rumah itu dengan segera.  Tetapi jangan sampai memperlihatkan kekecewaan terhadap perlakuan tuan rumah yang tidak berbudi baik tersebut.


فَاِنْ لَمْ تَجِدُوْافِيْهَااَحَدًافَلاَتَدْخُلُوْهَاحَتىَّ يُوْذَنَ لَكُمْ وَاِنْ قِيْلَ
لَكُمُ ارْجِعُوْافَارْجِعُوْاهُوَاَزْكَى لَكُمْقلىوَاللهُ بِمَاتَعْمَلُوْنَ عَلِيْمُ
﴿النور:٢٨﴾

Artinya :
Dan jika kamu tidak menemui seseorang di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin.  Dan jika dikatakan kepadamu:”Kembalilah!(hendaklah) kamu kembali. itu lebih suci bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “(Q.S An. Nur :28)

c)       Apabila sudah diterima dengan baik, janganlah berbuat seenaknya di rumah orang, meskipun udah dikatakan oleh tuan rumah, anggaplah sebagai rumah sendiri. Itu adalah hak dan kewajiban dia sebagai tuan rumah, sedangkan kemu mempunyai hak dan kewajiban tersendiri sebagai tamu.
d)      Menjadi tamu dirumah teman dekat harus tetap menjaga kesopanan.  Jangan melihat-lihat semua benda yang ada dirumah itu, kecuali benar-benar dipersilahkan oleh tuan rumah
e)      Jika kita dihidangkan makanan dan minuman maka cicipilah makanan dan inuman tersebut setelah kita dipersilahkan oleh tuan rumah untuk dicicipi, seandainya makanan dan minumana itu tidak sesuai dengan selera kita maka jangan ditampakkan bahwa kita tidak suka, tetapi cicipilah sekedarnya saja
f)       Kalau dirasa sudah sudah cukup keperluannya maka dengan sikap yang agak berat kita berpamitan, untuk pulang.  Tidak lupa sampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya atas sambutannya dengan harapan kita akan menanti kedatangannya di rumah kita, dan dapat bertemu kembali dilain waktu.

3. Mempraktikkan Adab dalam kehidupan sehari-hari
Sebagai muslim yang beriman, hendaknya kamu dapat mempraktikkan adab bertemu menurut ajaran Islam, dalam kehidupan sehari-hari.  Untuk dapat mempraktikkan adab bertemu, hendaknya kamu perhatikan terlebih dahulu beberapa hal berikut ini:
a)      Tanamkan keimanan yang kuat di dalam hati, agar tidak tergoda oleh setan ketika bertamu
b)      Tanamkan keyakainan dalam hati bahwa bertamu itu merupakan salah satu sunah rasul, dalam rangka silaturahmi terhadap sesama muslim, baik yang dekat maupun yang jauh
c)       Tanamkan keyakinan bahwa bertemau sesuai adab Islam termasuk ibadah, yang tidak hanya akan mendapat pahala juga dapat memperbanyak saudara dan menghilangkan permusuhan
d)      Pahami dengan baik tata cara atau adab bertamu secara islami, agar dalam pertemuan tidak menimbulkan hal-hal negative dari kedu belah pihak, baik yang bertamu maupun yang menerima tamu
e)      Mulailah membiasakan mempraktikkan adab bertamu secara islam dari sekarang, agar kelak kamu terbiasa bertamu dan menjalin silaturahmi dengan baik terhadap siapa pun
f)       Selamat memulai

sumber : http://barkahhernandez.blogspot.com

Akhwat "Eksklusif"? Udah Gak Jaman Kaleee :D




Bismillah…

Ketika menuliskan sebuah tulisan sederhana ini, lagi lagi aku berpikir untuk terus melanjutkan jari jemari ini menari-nari di atas benda hitam berhuruf banyak yang dinamakan keyboard ini, atau menghentikannya dan membiarkan celotehan-celotehan tiada henti ini tetap diam di dalam pikiran pemiliknya. Lagi-lagi kekhawatiran menyelimuti semangat diri untuk terus menumpahkan segala bentuk diskusi monolog yang senantiasa terjadi manakala aku mulai melihat fenomena-fenomena “aneh bin ajaib” yang kerap kali aku saksikan. Lagi-lagi rasa segan, serta rasa ketidakpantasan untuk menulis sebuah tulisan sederhana ini muncul begitu saja manakala aku mulai menjejakkan jari-jemariku di atas sebuah keyboard yang tepat berada di hadapanku. Mungkin ada yang menganggapku berlebihan bila harus merasa khawatir hanya untuk menulis sebuah tulisan sederhana saja. Mungkin ada yang menganggapku “cemen” bila harus merasa segan hanya untuk menulis sebuah tulisan sederhana saja. Dan mungkin ada yang menganggapku “lemot” bila harus berpikir berulang kali hanya untuk menulis sebuah tulisan sederhana saja. Ya… aku akui bahwa aku memang berlebihan, aku memang “cemen”, dan aku juga “lemot”. Aku akui itu, tapi akhi wa ukhti…. Seseungguhnyalah tulisan sederhana ini tak bermakna sederhana bagiku… aku mungkin menuliskannya dengan bahasa yang sangat sederhana, gaya yang sederhana, serta isi yang sederhana, tapi aku yakin bahwa makna yang terdapat di dalamnya tak sesederhana bahasa, gaya, serta isinya bagi mereka yang paham akan apa yang aku coba untuk sampaikan melalui tulisan sederhana ini. Itulah mengapa aku begitu khawatirnya dalam penulisan ini. Aku khawatir akan apa yang akan aku sampaikan, karna aku sebenarnya sangat sadar bahwa aku tak berkapasitas dalam membuat tulisan ini.
Kali ini, di dalam tulisan yang lagi-lagi kusebut sederhana ini, aku mencoba untuk mengajak akhi wa ukhti semua berdiskusi denganku… aku tak memaksa akhi wa ukhti untuk sependapat denganku, aku tak memaksa akhi wa ukhti untuk berdebat denganku, dan aku tak memaksa akhi wa ukhti untuk berada di pihakku… tidak, sama sekali tidak… aku hanya sekedar ingin menyampaikan apa yang selama ini berkecamuk dalam pikiranku. Aku hanya sekedar ingin mengajak akhi wa ukhti berpikir ulang mengenai apa yang akan aku sampaikan, dan aku hanya sekedar ingin mengajak akhi wa ukhti untuk memahami apa yang akan aku sampaikan.
Bismillah…
Ahwat “eksklusif”… aku rasa sebutan itu bukanlah hal baru bagi akhi wa ukhti sekalian. Sebutan itu bahkan sudah sangat “familiar” di telinga akhi wa ukhti semua… aku yakin itu. Tapi sebenarnya apa yang akhi wa ukhti ketahui tentang kata “eksklusif” di sini? Ekslusif yang seperti apa yang akhi wa ukhti pahami selama ini? Maaf… sekali lagi maaf bila aku lancang membahasnya di ruang publik ini. Maaf bila aku terpaksa harus membahasnya di sini. Aku tak berniat menceramahimu, tidak sama sekali… aku hanya mencoba untuk menasehati diriku sendiri, serta mengajak akhi wa ukhti untuk berada dalam diskusi ini. Aku merasa lelah… jenuh bila harus mendiskusikannya sendiri. Maka dari itu, aku mencoba untuk mengajak antum semua berada dalam situasi ini, demi cita kita bersama.
Kembali kepada kata “eksklusif” yang menjadi pembahasan kali ini, aku mencoba untuk menafsirkan makna kata “eksklusif” itu sendiri sebagai sebuah gaya hidup yang kerap kali dijalani oleh para aktivis dakwah. “ekslusif” yang kumaksud di sini ialah keterbatasan hubungan sosial antara aktivis dakwah dengan kalangan umum. Maaf jika aku harus mengatakan bahwa “ekslusif” yang seperti ini yang kusebut “angkuh”. Memang kita ini siapa sehingga harus menetapkan standar pertemana?!?. Bahwa kita hanya mau bergaul dengan sesama aktivis saja, tidak level bila harus membaur dengan kalangan umum. Astaghfirullah… Angkuh sekali rasanya bila kita sebagai manusia yang “paham” terus menerapkan gaya hidup seperti ini.
Pada kesempatan ini, aku mungkin hanya akan sedikit membahas masalah kecil yang berdampak besar ini hanya dalam lingkup muslimah saja. Ya…  akhwat lah yang akan aku bahas kali ini.
Mengapa akhwat??? Karna aku seorang akhwat, sehingga dunia akhwat begitu dekat denganku.
Taukah ukhti bahwa fenomena yang kusebut “aneh bin ajaib” ini begitu seringnya terjadi di kalangan kita??? Iya… akhwat ukhti… akhwat…
Taukah ukhti bahwa fenomena ini justru kita anggap biasa di kalangan kita??? Lagi-lagi akhwat ukhti…
Dan taukah ukhti bahwa fenomena ini berdampak besar bagi dakwah kita ukhti??? Sekali lagi iya ukhti… di kalangan akhwat…

Apa engkau tidak merasa khawatir ukhti…???
Apa engkau menganggap ini hal yang wajar saja ukhti…???
Atau... apa engkau tidak peduli akan hal ini…???

Maaf… lagi-lagi aku hanya bisa mengucapkan kata maaf yang sedalam-dalamnya…
Aku tau bahwa aku tak lebih baik darimu, aku tau bahwa aku tak lebih tau darimu, dan aku tau bahwa aku tak lebih berpengalaman darimu…
Tapi ukhti… ukhti tau kan bahwa setiap muslim itu bersaudara??? ukhti tau kan bahwa sesama saudara harus saling mengingatkan??? Dan ukhti tak lupa kan bahwa aku saudaramu ukhti???
Maka dari itu aku memberanikan diri membuat tulisan ini…
Ini untukmu, dan untukku juga ukhti…
Dari rentetan pertanyaan yang kuajukan sebelumnya, aku tau engkau pasti paham dengan apa yang kumaksudkan. Bahkan hanya dengan membaca judul dari tulisan ini saja, engkau sudah sangat paham tentang apa yang akan aku sampaikan.
Berawal dari seringnya menjumpai beberapa kasus sosialisasi antar aktivis akhwat di kalangan umum, memaksaku untuk membuat tulisan ini.
Seringkali kujumpai aktivis akhwat yang sangat membatasi ruang lingkup pergaulannya hanya di kalangan mereka saja. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sehingga sekedar merapat dalam ruang lingkup yang berbeda pun terkesan enggan. Mereka membatasi diri untuk terlibat dalam ruang lingkup yang berbeda, hanya karna merasa terlalu nyaman dalam zonanya sendiri. Tak mau keluar dari zona nyaman itu, karna mungkin khawatir tidak akan merasa nyaman di zona yang lain. Bagiku, rasanya perlu untuk keluar sebentar ke zona yang berbeda. Sebentar saja… hanya untuk merasakan atmosfer di zona yang lain itu. Sebenarnya bila bicara tentang nyaman atau tidaknya, tentu berada di zona yang berbeda dengan “tempat kita” tak akan senyaman di zona kita. Tapi kita bisa koq membuatnya nyaman, walau tak senyaman di zona kita tentunya. Semua tergantung dari bagaimana kita mencoba membiasakan diri di dalam zona yang lain itu. Aku yakin ukhti semua sudah sangat paham tentang makna “boleh membaur, asal jangan melebur”. Ya… itu berarti kita sangat boleh atau bagiku kita sangat perlu untuk membaur dengan kalangan umum… yang penting kan kita tidak melebur.
Kenapa aku terkesan sangat menganjurkan ukhti untuk membaur dengan kalangan umum??? Karena mereka butuh kita… dan kita butuh mereka…
Itulah mengapa aku sangat “recommend you to join with others”…
Mungkin ada yang belum bisa menangkap pesan yang aku sampaikan di atas.. baiklah… aku akan mencoba untuk memperjelasnya… memperjelas segalanya…
Ukhti… aku merupakan salah satu akhwat yang juga pernah berada dalam masa “kegalauan”… aku tau bagaimana rasanya menjadi orang yang “galau”. Ketika aku “galau”, terkadang aku bingung di mana harusnya aku bertanya bila aku tak tau. Kepada teman-temanku yang juga “galau”, tentu aku tak akan mendapat jawaban apa-apa… wong sama-sama “galau” koq. Dari situ aku mulai mencari cara agar aku bisa kaluar dari “kegalauan” ini. Hingga akhirnya aku menemukan tempat dimana di sana tempat berkumpulnya orang-orang seperti kita, ya… aktivis dakwah, sehingga aku bisa bertanya, dan tak perlu pusing lagi di mana aku harus bertanya. Aku telah menemukan tempatnya. Melalui pengalamanku itulah aku mencoba menganalisis bahwasannya untuk berada dalam lingkungan “nyaman” ini sangatlah sulit. Bahwasannya untuk berkumpul dengan orang-orang di zona “nyaman” ini begitu sulit. Dan bahwasannya untuk menjadi bagian dari mereka juga sulit. Mengapa sulit???
Ya karna kita yang harus mencari… kita yang harus “memaksakan diri” untuk masuk, dan kita yang “bersusah payah” untuk bergabung.
Karena hambatan-hambatan itulah mengapa banyak yang akhirnya memutuskan untuk mundur kembali ketika sudah mulai tertarik untuk bergabung.
Bagaimana tidak mundur, wong mereka melihatnya para aktivis itu terlalu “ekslusif” koq…
Mereka jadinya beranggapan bahwa suatu saat ketika mereka telah menjadi salah satu dari aktivis itu, itu artinya mereka tak bisa bersosialisasi dengan kalangan umum seperti dulu lagi… mereka juga akan dituntut untuk menjadi “eksklusif”… membuat kelompok sendiri….
Bagi mereka yang teliti, tentu itu menjadi poin penilaian tersendiri bagi mereka.
Nah, itu bagi yang masih punya niatan untuk bergabung. Buat yang sama sekali tak pernah terlintas niatan untuk bergabung… lebih parah lagi anggapannya terhadap kita.
Sampai di sini mungkin ada yang tidak setuju atau bahkan sangat menentang opini pribadiku ini. Tak apa… aku sudah mengatakan di awal bahwa aku tak memaksa akhi wa ukhti untuk setuju dengan pendapatku. J karna ini hanya opini kan? Berdasarkan pengalaman serta analisis pribadi.
Baiklah… akan kucoba untuk melanjutkan opiniku…
Dakwah memang ada yang namanya pengkaderan… tidak bisa tidak, pasti ada. Tapi pengkaderan yang selama ini dikenal oleh aktivis apakah hanya pengkaderan “resmi” yang dirancang sedemikian rupa dengan agenda yang seabrek-abrek? Apakah dakwah hanya dilakukan dengan cara yang “resmi” saja? Apakah syiar harus di masjid saja? Atau di kalangan kita saja??? Aku rasa tidak. Aku rasa mengkader, berdakwah, mensyiarkan islam bisa di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Begitu juga kepada kalangan umum… justru malah itulah lahan dakwah kita… iya kan???
Maka dari itu…. Ada baiknya bila kita yang menghampiri “customer”…  jangan hanya menunggu hingga mereka singgah untuk berbelanja.
Bagaikan pedagang asongan yang menjajakan dagangannya dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan memperhatikan sasaran tentunya… dibandingkan dengan pedagang kaki lima yang berdagang di tempat yang di sana tidak ada pembelinya, yang ada hanya puluhan sesama pedagang kaki lima dengan dagangan yang sama pula. Kira-kira yang mana yang banyak laku dagangannya??? Yang mana yang duluan terjual dagangannya???
Kalau masih ada yang menjawab pilihan ke-2… monggo coba dipraktikka saja... hhe.. J
Nah, seperti itulah kira –kira seharusnya kita bersikap. Menjadi pedagang asongan yang tekun menjajakan dagangannya, bukan malah menjadi pedangang kaki lima yang menunggu dengan santainya sambil asik bercengkerama dengan pedagang kaki lima yang lain walau sebenarnya tau bahwa di tempat itu sama sekali tidak ada yang akan membeli. Siapa yang mau membeli? Pedagang kaki lima yang lain??? Wong mereka juga menjual dagangan yang sama… hhe...
Wah… sudah terlalu jauh ya aku berjalannya… maaf… J
Ukhtiku yang tidak aku cintai selain karena Allah...
Taukah engkau bahwa saudara-saudara kita di luar sana juga membutuhkan perhatian dari kita… mereka juga sebenarnya ingin sekali bisa bersahabat dengan kita… sebenarnya ada saja pertanyaan yang ingin mereka ajukan kepada kita… tapi… karna adanya benteng yang terlalu tinggi di antara kita dengan mereka, serta terlalu jauhnya jarak yang memisahkan kita dengan mereka… itu membuat mereka segan untuk sekedar bertanya bila mereka butuh jawaban, sekedar bercerita ketika mereka dirundung masalah, sekedar mendekat bila butuh dorongan semangat…
Tapi apa yang kita lakukan??? Kita justru menjauh dari mereka… kita lupakan mereka… kita acuhkan mereka…
Saudara macam apa kita ini?!?
Ketika saudara kita tidak tau… kita biarkan mereka… kita tidak peduli… seakan itu bukanlah urusan kita…
Ketika saudara kita tampak bersedih… kita tinggalkan mereka… kita tak mau tau tentang masalah yang mereka alami…
Ketika saudara kita hanya sekedar ingin duduk bercengkerama dengan kita… kita malah sibuk dengan urusan kita sendiri… tak menghiraukan mereka yang mencoba untuk tau banyak tentang jalan ini…
Astaghfirullahal ‘adziiimm…
Bukankah kita aktivis… yang seharusnya paham akan hal ini… paham bahwa hal semacam itu tak boleh terus menerus kita geluti…
Taukah ukhti, bahwa sebenarnya mereka sedang menunggu kita... menanti kita untuk berada bersamanya... merangkulnya ketika lara mendera... mengingatkannya ketika terlupa... menyemangatinya ketika ia merasa seakan-akan dunia ini menghimpitnya... menyegarkannya dengan kalimat-kalimat penuh motivasi darimu... kemudian, biarkan mereka merasakan indahnya islam... indahnya iman... darimu ukh...
Alangkah indahnya persaudaraan yang dibangun dengan cara semacam ini...
Maka dari itu, ayolah ukh... ayo kita hilangkan budaya lama itu... “eksklusif” sekarang udah bukan jamannya...
Hari gini kita mesti lebih peka dengan kondisi sekitar... jangan terlalu sibuk dengan diri sendiri... Please remember that they need us... and we need them...
Yuk kita tunjukin the real Islam dari diri kita sendiri...
Persaudaraan itu sangatlah indah... apalagi kalau bisa sampai ke surga...
Mudah2an kita bisa menjadi saudara sampai ke surga. J

Afwan atas segalanya...

Tulisan ini hanyalah sebuah nasihat bumerang yang tentu akan kembali pada yang melemparkan tulisan ini... J


Buku Bulanan - Udah Putusin Aja!

Assalamu'alaykum wr.wb.
Kali ini Litbang Tarbawi meluncurkan BB (Buku Bulanan) first edition tentang Buku karya Ust. Felix Siauw, "Udah Putusin Aja."

Galau? Gak ada yang namanya galau!! Kok bisa?? Yaaa baca buku ini.. Hati-hati bisa senyum sendiri loh.. ^^



Bismillah...
Ikhwafillah..

Masih semangat membaca?? Iya donk ya, guru gitu loch... Nih, buku UDAH PUTUSIN AJA! Salah satu buku TERPOPULER di kalangan remaja? Kenapa gak? Buku yang biasa disapa UPA atau buku PINK ini, menyilaukan siapa saja yang melihat buku ini terpajang minta dibeli. Ckckck, terutama yang suka berbicara masalah CINTA. Buku ini mengulas tentang PACARAN. Ini buku PAS BANGET!!

Penulis                              : Felix Y. Siauw
Visual                          : Emeralda Noor Achni                                                             
Penerbit                       : Mizania
Halaman                      : 180 halaman
Harga buku                  : 67000 @ Granada Bookmart

Openingnya Dahsyat

Bayangkan, begitu membaca buku ini, pembaca diperlihatkan sebuah fakta yang sangat menarik tentang sebuah email berisi curhat seseorang, yang mengalami kegalauan dengan apa yang pernah dilakukan dengan pacarnya. Opening ini benar-benar dahsyat karena bisa jadi yang baca juga pernah mengalami, hampir mengalami, atau tidak pernah mengalami sama sekali. Efeknya, pembaca akan penasaran.

Isinya Dibutuhkan

Sangat tidak bisa disangkal, tema pacaran sampai kapan pun selalu dibutuhkan, apalagi oleh remaja zaman sekarang yang lebih mudah terpengaruh dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi daripada ukhrowi. Buku ini paling tidak membuka wawasan dan mengalihkan kembali pada makna pacaran yang sesungguhnya.

Kontentnya tak terbantahkan

Ustad Felix selalu menyertakan dalil naqli pada setiap bab dalam buku ini. Dalil tersebut disampaikan dengan cara yang sangat tegas, namun tidak berlebihan. Sehingga, pembaca tidak merasa disudutkan, sebaliknya, pembaca, terutama pembaca remaja justru merasa diajak berdialog. Ini akan membuat pembaca merasa nyaman.

Memberikan solusi yang benar dan tepat

Beginilah sebaiknya sebuah buku penuntun, tidak hanya memberikan insight-insight baru atau pengetahuan baru yang berlebihan. Secukupnya saja dan langsung diberikan solusinya. Pembaca remaja sekarang ini maunya yang instan-instan. Buku udah, Putusin Aja! Ini sangat solutif.

Mudah di pahami

Siapapun yang membaca buku ini pasti merasa tercerahkan atau teringatkan kembali dengan aturan-aturan yang diajarkan dalam Islam. Mana aturan yang benar dan mana aturan yang salah dalam buku ini sangat gamblang dijelaskan.

Sangat Jelas dan Tegas

Sebagaimana pada point ketiga di atas, buku Udah Putusin Aja! Ini berbicara sangat jelas, hanya membahas satu hal, tentang pacaran dan pernak-perniknya, tidak membahas soal lain. Apa yang dibahas pun sangat tuntas.

Design Sangat Populer

Ini yang tidak dimiliki oleh buku-buku lain. Buku-buku penuntun remaja lain yang pernah beredar di pasaran pada saat sekarang. Desainnya populer dan eyecaching. Siapapun pasti suka, baik desain cover atau pun desain isi.

Barangkali satu hal yang kurang dalam buku ini adalah tidak ada daftar pustaka sebagai rujukan, index, dan glosarium. Mungkin penerbit melupakannya karena ini buku untuk remaja dan mengira remaja tidak memerlukannya. Padahal, sebagai buku penuntun, secara literasi buku seperti Udah Putusin Aja! Ini membutuhkan tiga hal di atas.



by: LITBANG TARBAWI

Foto bersama Dekan

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh  sahabat ceria TarbawiJ. Khaifa khalukJ?Semoga selalu dalam keadaan ceria yaJ.Kali ini Jepret hadir kembali di hadapan sahabat ceria Tarbawi. Jepret akan melaporkan agenda Foto – foto bersama Dekan FKIP yang juga merupakan satu di antara agenda SPF. Agenda ini dilaksanakan pada hari Senin, 17 Juni 2013 dari pukul 10.00 WIB – 11.00 WIB.Sebenarnya, agenda ini direncanakan dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB. Namun, berhubung Pak Aswandi selaku dekan FKIP masih sedang berada di luar daerah dan baru akan tiba di Pontianak pukul 10.00 WIB, maka Kabid SPF selaku penanggungjawab memutuskan untuk menunda acaranya hingga pukul 10.00 WIB.
Ternyata, masalah tidak berhenti sampai di situ saja. Tak sedikit pula pengurus  Tarbawi memakai dresscode yang tidak sesuai dengan format yang telah ditentukan. Tak heran, jika hal ini semakin membuat Kabid SPF khususnya,  semakin pusing bukan kepalang. Ditambah lagi datangnya rintik – rintik hujan yang membasahi bumi membuat suasana semakin tegang karena kamera yang sudah dipinjam secara khusus oleh SPF tidak boleh terkena air sedikitpun.Kondisi Pak Aswandi yang dalam keadaan lelah karena baru pulang dari Sintang pun melengkapi kepanikan pada saat itu.Beliau tidak mampu berdiri lama – lama untuk diambil gambarnya.Namun, semua masalah yang ada akhirnya dapat teratasi.Semuanya tak lepas karena keprofesionalan para pengurus Tarbawi dan tentunya Kehendak Sang Maha Kuasa dalam menyelesaikan masalah – masalah ini.
Sesi Foto – foto pun siap dimulai. Momen ini memang berlangsung tidak begitu lama. Namun, dari momen ini pulalah,rasa persaudaraan antar para pengurus semakin erat karena kerenyahan Susana dari candaan yang terjadi selama pemotretan. Sekian jepret kali ini melaporkan.Salam ceria sahabt ceria TarbawiJ. Jepret akan kembali hadir dengan laporan – laporan perjalanan lainnya, yang tentunya akan menginspirasi kita semua.

 Wassalamualaikum Warohmatullahi WabarokatuhJ.

Ifthor Tarbawi

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh sahabat ceria Tarbawi.  Khaifa Khaluk?Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.ya:). Oh ya sahabat ceria Tarbawi, kini Jepret (Jurnal Perjalana Tarbawi)  hadir kembali loh, tentunya dengan menyuguhkan beragam laporan perjalanan Tarbawi dalam beberapa waktu lalu ini. Diawali dengan Ifthor ala Tarbawi yang diselenggarakan pada hari Kamis, 13 Juni 2013 bertempat di Jl. A. Yani 2 Komp.Cempaka Mas dan Adi Griya Karya Blok B 9 yang juga merupakan kediaman satu di antara anggota Tarbawi (alias saya sendiri, Indah Wulandari, hehe).Alhamdulillah sahabat ceria Tarbawi, hampir semua punggawa Tarbawi hadir dalam acara ini.

Awalnya, acara ifthor ini direncanakan dimulai pukul 16.00.WIB  ba’da ashar. Namun, karena banyak yang tersesat dan terlambat, acara ini pun ditunda tiga puluh menit. Walaupun begitu, sama sekali tidak mengurangi esensi acara ini, yaitu mempererat ukhuwah antar sesama anggota Tarbawi, para pengurus khususnya.Acara pun dimulai. Sementara di ruang tamu sibuk membicarakan rancangan – rancangan ke depan, kami yang di dapur justru sibuk memasak untuk jamuan buka nanti.  Namun, bukan berarti kami tidak menyimak sama sekali, he. Sesekali, kami silih berganti untuk ikut mendengarkan pembicaraan. Oh ya  sahabat ceria Tarbawi, kalau di RCTI kan ada master CHEF ya??, Nah, kalau  di tarbawi kita juga punya koki – koki handal dengan bakat tependam lo,.Mereka di antaranya adalah Alfin Nurfitri sang Master Minuman , Rafika sang Master Asam Pedas,Bina  Indri Hapsari sang Master Sambal, Gellis Firdha Auliana sang Master gorengan, dan Naini Utami Sang Master Pengolah.         
     
Tidak terasa, kini tiba saatnya untuk berbuka puasa.Seiring adzan berkumandang, kami pun membaca do’a bersama, dan berbuka.Alhamdulillah. Dengan segelas teh es manis dan bakwan, membuat suasana kebersamaan semakin begitu terasa. Setelah berbuka, kami melanjutkan dengan sholat maghrib. Sementara para ikhwan, melaksanakan shalatberjamaah  di masjid terdekat, yang akhwat melaksanakan salat berjamaah di rumah. Sedangkan akhwat yang berhalangan, sibuk menyiapkan hidangan makanan.Mulai dari nasi,sayuran, hingga lauk – pauk, semuanya sudah siap sedia. Usai melaksanakan sholat maghrib, para ikhwan terlebih dahulu dipersilakan untuk menikmati makanan yang telah disediakan. Alhamdulillah, para ikhwan menyantap makanan dengan lahap, walaupun ada yang bilang kalau sambalnya kurang, hehehe.

Setelah makan, para ikhwan maupun akhwat mulai berpulangan. Namun, masih ada beberapa  akahwatyang tinggal karena membantu mengemaskan piring – piring yang kotor. Waktu semakin malam, tapi karena beres-beres belum selesai, para akhwat tangguh ini belum pulang ke rumah.Hal ini tentu saja membuat Ketum dan Sekum (selaku penanggung jawab pengurus) menjadi gelisah, karena hari sudah semakin malam.

Dengan rasa penuh tanggug jawab, ketum dan sekum menunggu para akhwat yang masih di rumah ahlul bait.Tidak samai disitu saja sahabat ceria, ketum dan sekum ini juga memastikan para akhwat ini sampai di rumah dengan selamat.Sungguh luar biasa dan patut untuk di contoh.Semuanya pun selamat sampai tujuan.Kami benar-benar lelah dalam kesenangan.Semoga kita bisa kembali mengadakan acara serupa untuk meningkatkatkah ukhuwah kita bersama.Sekian jepret kali ini melaporkan.Salam ceria sahabat ceria Tarbawi. Jepret akan kembali hadir dengan laporan – laporan perjalanan lainnya,  yang tentunya akan menginspirasi kita semua.
***
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
.
#TarbawiCeria
#JePreT

Forum Mi Sagu

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh sahabat Tarbawi CERIA
Kali ini Jepret hadir kembali menyapa sahabat Tarbawi CERIA .
Oiya, sebelumnya Jepret mau nanya nich, Khaifakhaluk sahabat Tarbawi CERIA ?
Pastinya masih tetap ceria dong ya, hehehe.
Nah, sahabat Tarbawi CERIA, kali ini Jepret akan melaporkan agenda spesial dari Tarbawi. Tapi, sebelumnya saya mau nanya dulu nich, sahabat tarbawi CERIA pernah gak makan mi sagu?? Pernah y?? Apa??  Belum pernah??  Serius??
Waduh... sayang banget. Mi Sagu itu merupakan makanan yang sehat dan satu di antara makanan khas Indonesia loh...Tapi Sahabat CERIA,  Jepret kali ini bukan mau bahas apa itu mi sagu, nanti sahabat cari tau sendiri aja deh ya, hehe. Kenapa dari tadi kita ngomongin mi sagu terus?? Saya kan jadi lapar *Eh
Tenang .... Sabar ..
Mi Sagu ini ada kaitannya dengan salah satu agenda Tarbawi. Ada yang tau? Agenda Tarbawi yang mana ya yang ada kaitannya dengan Mi Sagu. Belum tau? Wajar aja kalau sahabat CERIA pada belum tau agenda ini, karena agenda ini merupakan agenda baru dan sangat kondisional.Nama agenda nya adalah Forum Mi Sagu. Jadi, Forum mi sagu adalah satu di antara agenda terbaru Tarbawi yang sifatnya sangat kondisional.
Mengapa dinamakan Forum Mi Sagu??  Alasannya sangat sederhana sahabat CERIA,
Karena agenda atau forum ini diselenggarakan sambil makan mi sagu, hehehe.
Forum ini dilaksanakan untuk mempererat ukhuwah antara pengurus LDSI At-Tarbawi, khususnya buat para pengurus akhwat. Nah, kalau ikhwan kan untuk mempererat ukhuwah nya ada main futsal bareng tuh, nah Kalau yang akhwat ada hunting makanan bareng (Berbanding terbalik banget ya.. Yang satu mengeluarkan kalori, sedangkan yang satu nya lagi memasukkan kalori -__-), hehehe. Tapi gak masalah toh, yang penting bisa mempererat ukhuwah dan di ridhoi Allah SWT.

Forum ini dilaksanakan untuk pertama kalinya pada hari Senin, 17 Juni 2013 dari pukul 13.00 s.d 14.45 WIB di Samping Mesjid Raya Mujahidin Pontianak, Kalimantan Barat.
Karena forum perdana ini terjadi secara mendadak, jadinya yang hadir dalam forum ini hanya lima orang, yaitu dari  Ka.Mus (Ketua Muslimah), Bendum (Bendahara Umum), Ka.BidSPF (Syiar Pelayanan Fakultas), Ka.Bid PSDM (Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa) , dan Ka.Bir PSF (Pelayanan Studika Fakultas).
Di forum ini, kami  diskusi dan sharing seputar permasalahan akhwat Tarbawi. Selain itu kami juga membahas targetan yang mau dicapai dalam satu periode kepengurusan. Tentunya, agenda ini sangat seru sekali, karena disinilah kami bisa mengembangakan imajinasi dan kreasi kami untuk memproduktifkan tarbawi.       
         Sahabat ceria Tarbawi, sekianlah liputan Je-Pret kali ini.Jepret akan kembali hadir dengan suguhan cerita – cerita Tarbawi yang pastinya menginspirasi. Terimakasih atas partisipasinya. Salam  CERIA sahabat ceria Tarbawi.  WassalamualaikumWarohmatullahiwabarokatuh.

#TarbawiCeria
#JePreT

STAND Tarbawi Informasi (SPF)


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Sahabat Tarbawi CERIA J. KhaifakhalukJ?  Semoga masih tetap semangat dan CERIA yaJ.  Kali ini, JePret akan melaporkan agenda STAND TarbawiInformasi dari SPF LA. Tapi, kali ini JePret akan menyajikan nya secara berbeda. Yaitu dalam bentuk Diary. Simak kisahnya berikut ini ya.. Selasa, 18 Juni 2013, Pukul 06.00 WIB. Hari ini SPF mau bikin Stand Tarbawi Informasi, atau yang bisa disingkat (S-TB à dibaca nya Es Tebu). Gak nyambung ya??....Iya juga sih.*Gak papa lah yang penting ear catching.  Agenda ini merupakan agenda bersama bidang Syiar se-UNTAN. Jadi, pada hari ini tu, semua LDF di UNTAN itu membuka stand yang sama (dengan gaya yang mungkin berbeda). Kita kembali ke Kampus FKIP. Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Kampus masih sangat sepi. Terlihat dari kejauhan dua akhwat tangguh sedang memindahkan meja dari belakang aula ke depan copy center. Siapa mereka?? Oh.., Ternyata Kabid SPF, Gellis Firdha Auliana, dan PJ agenda S-Tebu,  Dwi Martina. *Pagi-pagi sudah olah raga angkat meja.
Jadi ..Agenda Stand Tarbawi Informasi ini memang merupakan satu di antarabeberapa agenda unggulan TARBAWI. Kenapa unggulan? Karena ini adalah agenda yang memberikan  pelayanan nyata kepada mahasiswa. Stand Tarbawi Informasi ini merupakan pusat Informasi bagi para peserta SBMPTN.
Di Stand Tarbawi Informasi ini, kita melayani mahasiswa dengan berbagai macam kebutuhan. Mulai dari membagikan 200 lembar denah kampus FKIP dan ruangan Ujian. Membagikan alat – alat perlengkapan ujian secara Cuma – Cuma atau Gratis. Menyediakan guide bagi peserta yang kebingungan denganlokasiruangujian. Membagikan Buletin dan Pamflet seputar Tarbawi. Dan lain-lain.
Di Stand ini, kita juga menjual keripik pisang “Full of Love” dengan harga yang murah meriah.Pukul 07.00 WIB, Pengurus ikhwan mulai berdatangan.  Peserta semakin ramai yang datang dan bertanya. Dalam waktu bersamaan, KWU jugamembuka stand jualan makanan,minumandan lain – lain.  Semuanya berjalan dengan sangat lancar, aman dan terkendali. J

Pukul 7.30 WIB, Peserta mulai ujian. SPF memutuskan untuk menutup Stand dan membukanya kembali esok hari . Namun,  Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.
Insiden yang tak diinginkan pun terjadi. -__-. Stand Kwu yang masih tegak berdiri di depan copy center mendapatkan teguran dari Satpam FKIP. Satpam itu marah – marah karena tarbawi membuka stand di tempat illegal (*di depan copcen).Keadaanpun  semakin memanas karena pada saat itu yang seharusnya bisa memberikan argument sanggahan kepada satpam (Kabid SPF) justru sudah tidak ada di lokasi kejadian.

Satpam                        :  “Kalaumaubukastanitu, izindulu!!”
Tarbawi           :  “Kami sudahizindengansatpamdanpakAhmadi, Pak”
Satpam                        :  “ Seharusnyaizinlagi, sayakanlupa”.

Intinya seperti itu lah y..

Akhirnya, KWU pun mengalah dan memutuskan untuk menutup stand. Walaupun hanya berjualan sebentar, dan diakhiri dengan momenyg tidak mengenakkn pula, KWU Tarbawi berhasil meraih keuntungan yang lumayan banyak darijualan tadi loh sahabat Tarbawi CeriaJ

Seharusnya, besok Stand Tarbawi Informasi dibuk alagi, namun karena peristiwa yang kurang mengenakkan itu, Kabid SPF memutuskan untuk tida kmembuka Stand karena stand di hari ke-2 jugatidak terlalu urgen.

***
Sahabat ceria Tarbawi, sekian liputan Jepret kali ini. Jepret akan kembali hadir dengan suguhan cerita – ceritaTarbawi yang semoga selalu menginspirasi. Terimakasih atas partisipasinya. Salam Ceria Sahabat TarbawiJ.
 Jepretakhiri,Wabillahitaufik Walhidayah WassalamualaikumWarohmatullahiwabarokatuhJ.

Kalender Hijriah

 
Copyright © 2013. LDSI At-tarbawi - All Rights Reserved
Published by LDSI At-tarbawi
Proudly powered by Blogger