Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Ayah....



Duhai Ayah, tak terasa setahun sudah kepergianmu...
sepi rasanya rumah ini tanpa dirimu..
apa kabarmu di tempat peristirahatanmu disana ?
siapakah yang menemani hari-hari mu ?

Belajar dari ali dan fatimah


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

MEMPERCANTIK DIRI YANG DIHARAMKAN May 7, '09 8:43 PM for everyone Oleh: Farid Nu’man Hasan




http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v3873/115/3/84381095811/n84381095811_2346912_8015432.jpg

Bagi wanita, mempercantik diri adalah hal yang biasa bahkan menjadi kebutuhannya. Islam memandang jika tujuannya untuk menyenangkan hati suami maka itu akan dinilai sebagai ibadah. Mempercantik diri, selama dengan cara yang wajar dan tanpa merubah ciptaan Allah Ta’ala dalam diri kita, tidaklah mengapa. Namun, ketika sudah ada yang ditambah-tambahkan atau dikurang-kurangkan maka itu terlarang, sebab seakan dia tidak mensyukuri nikmat yang ada pada dirinya. Itulah yang oleh hadits disebut ‘Dengan tujuan mempercantik diri mereka merubah ciptaan Allah Ta’ala.’

Bagaimanakah bersolek yang terlarang? Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah memberikan panduannya untuk kita.

Tegas Sekali Larangan Itu

Berikut ini adalah berbagai riwayat tentang bersolek yang bisa menurunkan laknat Allah Ta’ala atas pelakunya. Diriwayatkan oleh beberapa sahabat nabi seperti Abu Hurairah, Aisyah, Asma, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, dan Mu’awiyah. Berikut ini adalah beberapa hadits tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لعن الله الواصلة والمستوصلة، والواشمة والمستوشمة

“Allah melaknat wanita penyambung rambut dan yang disambung rambutnya, wanita pembuat tato dan yang bertato.” (HR. Bukhari [5589, 5602] )

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

أن جارية من الأنصار تزوجت، وأنها مرضت فتمعط شعرها، فأرادوا أن يصلوها، فسألوا النبي صلى الله عليه وسلم فقال: (لعن الله الواصلة والمستوصلة).

“Seorang wanita Anshar hendak menikah, dia dalam keadaan sakit dan rambutnya rontok, mereka hendak menyambungkan rambutnya (seperti wig, konde, dan sanggul), lalu mereka bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau menjawab: “Allah melaknat wanita penyambung rambut dan yang disambung rambutnya.” (HR. Bukhari [5590], Muslim [2123], Ibnu Hibban [5514] )

Dari Asma’ Radhiallahu ‘Anha dia berkata:

سألت امرأة النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله، إن ابنتي أصابتها الحصبة، فامرق شعرها، وإني زوجتها، أفأصل فيه؟ فقال: (لعن الله الواصلة والمستوصلة).



“Ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, anak gadis saya terkena penyakit yang membuat rontok rambutnya dan saya hendak menikahkannya, apakah boleh saya sambung rambutnya?” Beliau bersabda: “Allah melaknat wanita penyambung rambut dan yang disambung rambutnya.” (HR. Bukhari [5597], Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, [4025] )



Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, katanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لعن الله الواصلة والمستوصلة والواشمة والمستوشمة

“Allah melaknat wanita penyambung rambut dan yang disambung rambutnya, dan wanita pembuat tato dan yang bertato.” (HR. Bukhari [5595, 5603, 5598, 5596], Muslim [2124], At Tirmidzi [1814] )

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

لعن الله الواشمات والمستوشمات والمتنمصات والمتفلجات للحسن المغيرات خلق الله

“Allah melaknat wanita pembuat tato dan yang bertato, wanita yang dicukur alis, dan dikikir giginya, dengan tujuan mempercantik diri mereka merubah ciptaan Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari [4604, 5587], Muslim [2125], Ibnu Hibban [5504], Ad Darimi [2647], Abu Ya’la [5141] )

Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Para Sahabat Oleh: Farid Nu’man Hasan


Kali ini kita akan melihat bagaimana konsep Ahlus Sunnah dalam bersikap terhadap sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Selain itu, akan kita lihat juga bagaimana beberapa firqah (kelompok) seperti syi’ah, khawarij, dan nashibi, terhadap para sahabat. Kita akan lihat bahwa Ahlus Sunnah adalah madzhab pertengahan yang mendapatkan petunjuk dari Allah ‘Azza wa Jalla dalam menyikapi berbagai persoalan.

1. Sikap Kaum Syi’ah (Rafidhah)

Berkata Syaikh Muhammad Khalil Hiras tentang mereka

الْمَعْرُوفُ أَنَّ الرَّافِضَةَ قَبَّحَهُمُ اللَّهُ يَسُبُّونَ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ، وَيَلْعَنُونَهُمْ ، وَرُبَّمَا كَفَّرُوهُمْ أَوْ كَفَّرُوا بَعْضَهُمْ ، وَالْغَالِبِيَّةُ مِنْهُمْ مَعَ سَبِّهِمْ لِكَثِيرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالْخُلَفَاءِ يَغْلُونَ فِي عَلِيٍّ وَأَوْلَادِهِ ، وَيَعْتَقِدُونَ فِيهِمُ الْإِلَهِيَّةَ وَقَدْ ظَهَرَ هَؤُلَاءِ فِي حَيَاةِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزِعَامَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبَأٍ الَّذِي كَانَ يَهُودِيًّا وَأَسْلَمَ وَأَرَادَ أَنْ يَكِيدَ لِلْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ ؛ كَمَا كَادَ الْيَهُودُ مِنْ قَبْلُ لِلنَّصْرَانِيَّةِ وَأَفْسَدُوهَا عَلَى أَهْلِهَا ، وَقَدْ حَرَّقَهُمْ عَلِيٌّ بِالنَّارِ لِإِطْفَاءِ فِتْنَتِهِمْ.

“Telah diketahui, bahwa kaum rafidhah –semoga Allah burukkan mereka- telah mencaci para sahabat Radhiallahu ‘Anhum, bahkan ada yang mengkafirkan mereka atau mengkafirkan sebagiannya, mayoritas mereka telah mencela kebanyakan para sahabat dan khalifah, dan mereka mengkultus Ali dan anak cucunyanya, dan mereka meyakini mereka (Ali dan anak cucunya) memiliki sifat ketuhanan. Mereka ini nampak pada masa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang masuk Islam dengan tujuan membuat tipu daya terhadap Islam dan pemeluknya, sebagaimana Yahudi terdahulu telah membuat tipu daya terhadap Nasrani dan pemeluknya untuk merusak mereka. Maka, Ali bin Abi Thalib menghukum mati mereka dengan membakarnya demi menutp fitnah yang mereka hasilkan.” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 253. Ar Riasah Al ‘Amah Li Idarat Al Buhuts Al ‘ilmiyah wal Ifta’ wal Da’wah wal Irsyad)

Sementara itu, Syaikh Said bin Ali Wafh Al Qahthani dalam kitabnya, yang berjudul sama, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah berkata lebih luas lagi sebagai berikut:

“Ar Rafidhah, yaitu segolongan dari syiah, mereka melampaui batas (ghuluw) dalam memuliakan Ali Radhiallahu ‘Anhu dan Ahli Bait. Mereka memproklamirkan permusuhan terhadap mayoritas sahabat nabi seperti yang tiga (Abu Bakar, Umar, dan Utsman, pen), mengkafirkan mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan mengkafirkan orang-orang yang memerangi Ali (yakni Aisyah dan pengikutnya ketika perang Jamal, atau Mu’awiyah dan pengikutnya dalam perang Shiffin, pen).

Mereka mengatakan sesungguhnya Ali adalah Imam yang ma’shum. Alasan kenapa mereka dinamakan rafidhah, karena mereka meninggalkan (rafadhuu) Zaid bin Ali bin al Husein ketika mereka mengatakan berlepas diri dari syaikhain (dua syaikh) yaitu Abu bakar dan Umar. Maka Zaid berkata: “Allah melindungi penolong kakekku” (maksudnya Allah melindungi Abu Bakar dan Umar, yang pernah menolong kakeknya, Ali bin Abi Thalib, pen). Karena itu, mereka meninggalkannya, maka mereka dinamakan rafidhah.

Sedangkan kelompok Zaidiyah mereka mengatakan, kami mengikuti mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) dan berlepas diri dari orang yang memutuskan hubungan dengan mereka berdua, dan mereka mengikuti Zaid bin Ali bin al Husein, karena itu mereka disebut Zaidiyah (lebih tenar disebut syiah zaidiyah, syiah yang moderat, pen). (Syaikh Said bin Ali Wahf Al Qahthani, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 57. Mu’asasah Al Juraisi)

Demikian jahatnya mereka terhadap para sahabat nabi, sampai-sampai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menceritakan:

وفضلت اليهود والنصارى على الرافضة بخصلتين سئلت اليهود من خير أهل ملتكم قالوا أصحاب موسى وسئلت النصاري من خير أهل ملتكم قالوا حواري عيسى وسئلت الرافضة من شر أهل ملتكم قالوا أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أمروا بالاستغفار لهم فسبوهم

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih baik daripada orang-orang Rafidhah dalam dua perkara. Aku pernah bertanya kepada orang-orang Yahudi, “Siapakah orang Yahudi yang terbaik?’ mereka menjawab; para sahabat Musa. Aku pernah bertanya kepada orang-orang Nasrani; ”Siapakah orang nasrani yang paling baik?” mereka menjawab para,” Hawari ‘Isa. “Aku juga bertanya kepada orang-orang Rafidhah,” Siapakah manusia yang paling buruk?” mereka menjawab,”Sahabat Muhammad -Shallallahu 'alaihi wa sallam-. Begitulah mereka diperintahkan agar beristighfar untuk mereka (para sahabat), tetapi justru mencela mereka…”. (Minhajus Sunnah, Juz. 1, Hal. 27. Tahqiq: Muhammad Rasyad Salim. Jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh)

Syi’ah Al Imamiyah Itsna ‘Asyariyah (Imam 12) Menganggap Para sahabat telah Murtad dan Munafik

Syi’ah aliran ‘Imam 12’ adalah syi’ah mayoritas yang ada saat ini. Menurut mereka sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seluruh para sahabat telah murtad, kecuali Abu Dzar, Salman, dan Miqdad. Salah seorang tokoh besar mereka, At-Tusturiy berkata, “Sebagaimana Musa telah datang untuk memberi petunjuk dan berhasil memberi petunjuk kepada banyak orang dari kalangan Bani Israil dan selain mereka, lalu mereka murtad di saat Musa masih hidup dan hanya Nabi Harun ‘Alais Salam saja yang bertahan di atas keimanannya, demikian pula Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah datang dan memberi petunjuk kepada banyak orang, akan tetapi mereka murtad sepeninggal beliau.” (At Tustury, Ihqaqu Al Haq, Hal. 316)

Dia juga berkata, “Mereka sebenarnya tidak memeluk Islam tapi hanya menginginkan kedudukan Nabi….. selalunya mereka menyandang kenifakan dan mengalirkan perselisihan.” (Ibid, Hal. 3)

Inilah tuduhan keji kaum Syi’ah terhadap para sahabat yang telah Allah ‘Azza wa Jalla muliakan dalam Al Quran (nanti akan kami buktikan), dan dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tuduhan ini justru bertentangan dengan perkataan Imam mereka sendiri, yaitu Imam Ja’far Ash Shadiq.

” Sahabat Rasul Shallalahu ‘Alahi Wasallam ada 12 000 orang, 8000 dari Madinah dan 1000 dari Makkah dan 2000 dari Thulaqa.Tidak terlihat diantara mereka orang Qadariyah, Haruriyah, Mu’tazilah ataupun penyembah akal, mereka menangis siang dan malam dan berkata ,” Ambilah nyawa kami sebelum kami memakan roti beragi.” (Hasan Asy Syirazi, Asy Sya’air Al Husainiyah, Hal. 8-9)

Bukti-bukti Kejahatan Pemikiran Syi’ah Terhadap Para Sahabat Nabi

Kami akan buktikan kejahatan mereka terhadap para sahabat, khususnya kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan ‘Aisyah. Juga akan kami paparkan secara global kejahatan mereka terhadap para sahabat nabi lainnya. Walaupun catatan kejahatan mereka terhadap sahabat lain juga sangat banyak.

Kejahatan Terhadap Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhuma

Mereka telah membuat kisah-kisah dusta mengatasnamakan orang-orang mulia. Mereka mengatakan bahwa ketika Ali hendak di bai’at, Ali berkata:” Bertepuklah, Allah telah melaknat dua orang”. (Ash Shafar, Bashirud Darajah Al Kubra, Hal. 412) Dalam As Saqifah, Sulaim Bin Qois mengatakan Ali senantiasa melaknat syaikhani (dua orang Syaikh, yakni Abu Bakar dan Umar). Demikian pula- menurut anggapan mereka- Imam Ja’far Ash Shadiq melaknat keduanya setiap selesai shalat wajib. (Al Kurky, Nufatu Al Lahut, q 6/alif 774/ba’)

Kaum syi’ah juga bersemangat mengarang doa-doa dusta yang berisi laknat atas Abu Bakar dan Umar, lalu mereka mengklaim bahwa doa tersebut dikarang oleh Ali, dan Ali senantiasa membacanya ketika qunut. Semoga Allah Ta’ala memburukkan wajah para pendusta itu.

Diantaranya satu do’a yang berjudul “ Do’a untuk dua berhala quraisy”. Do’a ini merupakan do’a khusus bagi kaum Syi’ah dalam melaknat Syaikhani dan dua putrinya yang menjadi isteri Rasul Shalallohu ‘Alaihi Wasalam. Menurut mereka Ali Bin Abi Thalib Radiyallahu 'Anhu juga berqunut dengan do’a ini dalam shalat witirnya. (Al Kasyani, Ilmu Al Yaqin, 2/701)

Kepada Imam Ahli Bait mereka menisbahkan keutamaan hadits ini- yang semuanya adalah dusta- bahwa barang siapa yang membaca do’a ini sekali Allah akan menulis baginya 70.000 kebaikan, menghapus 70.000 keburukan dan mengangkat 70.000 derajat serta memenuhi puluhan ribu kebutuhannya. (Dhiya’u Ash Shalihin, hal.513)

Bahkan, kaum Syi’ah telah memberikan pembelaan terhadap Abu Lu’Lu’ah seorang kafir Majusi pembunuh Umar Al Faruq. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

وينتصرون لأبي لؤلؤة الكافر المجوسي ومنهم من يقول اللهم أرض عن أبي لؤلؤة واحشرني معه

“Mereka membela Abu Lu’lu’ah, seorang kafir Majusi, dan di antara mereka ada yang berdoa: “Ya Allah ridhailah Abu Lu’lu’ah, dan kumpulkanlah aku bersamanya.” (Minhajus Sunnah, Juz. 6, Hal. 370-371) Ya! Semoga mereka dikumpulkan bersama Abu Lu’Lu’ah ....

Ash Shaduq meriwayatkan –riwayat dusta- dari Ja’far Ash Shadiq beliau berkata,” Neraka itu memilki tujuh buah pintu yang akan dimasuki Fir’aun, Hamman dan Qarun….”.(Ash Shaduq, Al Khishal, 2/361-362) menurut mereka, Fir’aun adalah Abu Bakar, Hamman adalah Umar, dan Qarun adalah Abdurrahman bin ‘Auf. (Al Kasyani, Ilmul Yaqin, 2/732)

Inilah sebagian kecil saja kejahatan mereka terhadap Abu Bakar dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma.

Kejahatan Terhadap Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘Anhu

Kedustaan selanjutnya adalah kejahatan mereka terhadap dzu nurain, Utsman bin Affan. Mereka menjulukinya Na’tsal (anjing hutan jantan), mereka menyebut beliau dengan nama itu karena menurut mereka ada kemiripan yang sangat antara Sahabat Utsman Bin Affan Radhiallahu ‘Anhu dengan anjing hutan jantan. Anjing hutan jantan jika memburu mangsanya ia menyetubuhinya terlebih dulu baru memakannya, sedang Utsman Bin Affan – beliau suci dari tuduhan ini- Ia menetapkan hukum had bagi seorang wanita lalu ia menjima’nya untuk kemudian menyuruh merajamnya. ( At Tusturi, Ihqaq Al Haq, Hal. 306) demikianlah kedustaan mereka.

Mereka menisbatkan sebuah perkataan dusta kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu bahwa ia berkata tentang Utsman,”Hasratnya hanya perut dan kemaluan: Diriwayatkan dari Al Kulaini dengan sanadnya dalam kitab Al Kafi dari Ali Bin Abi Thalib ia berkata dalam salah satu khutbahnya,” Dua orang telah mendahului, dan yang ketiga seperti burung gagak, hasratnya hanya perut dan kemaluanya, celakalah ia jika sayapnya digunting dan kepalanya dipotong niscaya itu lebih baik baginya. (Ibnu Tawus, At Taraf, hal 417)

Bukan hanya itu, kaum Syi’ah juga mengkafirkan Utsman dan orang-orang yang tidak mencela Utsman. Ni’matullah Al Jaza’iri berkata :”Sesungguhnya Utsman dizaman Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan nifak.”



Al Kurky berkata, ”Sesungguhnya orang yang dihatinya tidak memusuhi Utsman, menghalalkan kehormatannya dan tidak meyakini kekafirannya maka dia adalah musuh Allah dan RasulNya, kafir terhadap apa yang diturunkan Allah.” (Al Kurky, Nufhatu Al Lahut, q 57/alif)



Inilah sebagian kecil saja kejahatan mereka terhadap Utsman Radhiallahu ‘Anhu.


Kejahatan Syi’ah Terhadap ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha

Syi’ah juga mengarang cerita bahwa Aisyah memiliki satu pintu di Neraka yang bakal dimasukinya. Al Ayashy menyandarkan riwayat kepada Ja’far Ash Shadiq Rahimahullah– Dan sungguh ia suci dari apa yang mereka nisbahkan- Ia berkata mengenai tafsir ayat Al Qur’an tentang neraka” "لها سبعة أبواب" ( ia memiliki tujuh pintu):” Jahanam didatangkan,ia memiliki tujuh buah pintu…dan pintu ke enam untuk askar…dst. (Al-Majlisy, Biharul Anwar, 4/378)

Askar adalah kinayah (perumpamaan) dari Aisyah RA, sebagaimana dituduhkan Al Majlisi. Al Majlisi menerangkan dinamakan demikian karena diwaktu perang Jamal beliau mengendarai Unta yang bernama Askar. (Al-Baidlawy, Ash Shiratul Mustaqim, 3/131)

Tak puas dengan ini, kaum syi’ah menjuluki beliau dalam beberapa kitab Syi’ah dengan “Ummu Syurur” (Ibid) yang berarti “ Biang kejelekan” dan “ Syaithanah” (Ash Shaduq, Al-Khishalu, 1/190) artinya “setan perempuan”. Mereka menuduhnya telah berdusta kepada Rasulullah. (Al Kalibiy, Al Ushulu minal Kafi, 1/247) Dan bahwa sebutan “ Khumaira’” adalah gelar yang dibenci Allah. (Al-Muhibbu Ath Thabary, As-Samthu Ats Tsamin fi Manaqibi Ummahatil Mukminin, hal. 30) Jadi menurut Syi’ah, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha adalah kafir, tidak beriman dan termasuk ahli neraka.



Inilah sebagian kecil saja kejahatan mereka terhadap ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha.



Kejatahan Syi’ah Terhadap Para Sahabat Nabi lainnya



Al Kurki dan Al Majlisi- para pembesar ulama syi’ah- menyebutkan bahwa Ja’far Ash Shadiq –dan sungguh beliau jauh dari apa yang mereka tuduhkan- melakanat setiap kali selesai shalat empat orang laki-laki : At Tamimy Al’Adawy – Abu Bakar dan Umar-, Utsman dan Muawiyah. Dan empat orang perempuan : Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummu Hakam, saudara Muawiyah. (Al Majlisy, ‘Ainul Hayah, hal. 599)



Dalam hal melaknat dan tentang sikap berlepas diri mereka : Ibnu Rahawaih Al Qummi –bergelar Ash Shaduq- dan Al Majlisi menukil ijma’ kaum Syi’ah akan hal tersebut, keduannya berkata:” Aqidah kita dalam Al Bara’ adalah : Kita berlepas diri dari empat berhala : Abu Bakar Umar, Utsman dan Muawiyah. Dan empat orang wanita: Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummul Hakam juga seluruh pengikut serta golongannya. Dan mereka adalah seburuk-buruk makhluq di muka bumi. Dan tidak sempurna iman seseorang kepada Allah, Rasul dan para Imam kecuali setelah bara’ dari musuh-musuhnya”. (Ash-Shaduq, Al Hidayah, Q 110/A dan Al Majlisy, Haqqul Yaqin, hal. 59)



Al Bara’ artinya berlepas diri, memusuhi, dan benci. Demikianlah pengakuan mereka sendiri terhadap para sahabat nabi dan isterinya, bahkan sikap itu menjadi standar keimanan bagi mereka.



Mereka juga menuduh Muawiyah masih saja melakukan kesyirikan dan menyembah berhala meski sudah masuk Islam hingga sekian lama. (Az Zanjani, Aqaid Syi’ah Imamiyah Al Itsna Asyariyah, 3/61). Ia menampakkan keislamannya hanya berselang lima bulan sebelum Nabi wafat. (Al Kurki, Nufhatu Al Nufhatu Al Lahut, qaf 14/ba’-1526/alif) dan masuk Islam hanya karena takut akan pedang (Muhammad Ali Al Hasani, Fi Zhilali At Tasyayu’, hal 286) oleh sebab itu ia hanya muslim namanya saja karena ia masih seperti kaum jahiliyah terdahulu (Murtadha Al Askari, Muqaddimah Mir’atu Al Uqul, 1/38) sampai-sampai matipun di lehernya dikalungi salib (Al Bayadhi, As Sirat Al Mustaqim, 3/50). Muawiyah itu lebih buruk dari Iblis (Al Hali, Minhajul Karamah, hal 116) sikap kezindikannya melebihi Iblis (Mamaqani, Tanqihul Maqal, 3/222). Ia benar-benar seorang pemimpin kesesatan (Ibnu Abi Al Hadid, Syarh Nahju Al Balaghah, 20/15) , Imam kekafiran (Al Murtadha, Asy Syafie, hal.287), Fir’aunnya Umat ini (Ash Shaduq, Al Khisal, 2/457-460) , munafik, keras kepala atau “ngeyel” terhadap Allah, Rasul dan kaum Mukminin. (Muhammad Jawwad Mughniyah, Asy Syi’ah wal Hakimun, hal. 39) Musuh keluarga Muhammad Shallalahu ‘Alahi wa Sallam terutama Ali Bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. (Mughniyah, Asy Syi’ah wal Mizan, hal 255). Ia mati dalam keadaan kafir sehingga ia kekal dineraka.



Mereka melandaskan tuduhan bahwa Mu’awiyah kekal dineraka pada sabda Rasul yang menurut mereka pernah mengatakan,” Allah memperlihatkan kepadaku Hari Kiamat dan huru-haranya dalam tidurku, jannah dan kenikmatannya, neraka berikut azab, aku melihat neraka tiba-tiba aku melihat Muawiyah Bin Abu Sufyan dan Amru Bin Al Ash sedang berdiri diatas bara jahanam dan kepalanya dilempari batu jahanam oleh malaikat Zabaniyah yang berkata kepada keduanya ,” Tidakkah kamu beriman pada kekuasaan Ali ‘Alaihi Salam?!”. (Al Bahrani, Al Burhan, 4/477-478)



Demikianlah setetes kejahatan Syi’ah terhadap para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semoga Allah Ta’ala hancurkan mulut-mulut mereka.



2. Sikap Kaum Khawarij



Tentang mereka, berkata Syaikh Muhammad Khalil Hiras sebagai berikut:



وَأَمَّا الْخَوَارِجُ ؛ فَقَدْ قَابَلُوا هَؤُلَاءِ الرَّوَافِضَ ، فَكَفَّرُوا عَلِيًّا وَمُعَاوِيَةَ وَمَنْ مَعَهُمَا مِنَ الصَّحَابَةِ ، وَقَاتَلُوهُمْ وَاسْتَحَلُّوا دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ .

“Ada pun Khawarij, mereka bertolak belakang dnegan syi’ah, mereka mengkafirkan Ali dan Mu’awiyah dan para sahabat yang mengikuti mereka berdua, mereka memeranginya, dan menghalalkan darah dan harta meraka (Ali dan Muawiyah serta pengikutnya, pen).” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 254)



Demikianlah, kaum Khawarij tidak mengkafirkan sebagian besar sahabat, hanya mengkafirkan para sahabat setekah peristiwa tahkim (arbitrase) pasca perang Shiffin antara kubu Ali yang diwakili Abu Musa Al Asy’ari melawan kubu Mu’awiyah yang diwakili oleh Amr bin Al ‘Ash. Mereka mengkafirkan orang-orang yang ikut peristiwa itu, lantara menurut mereka, para sahabat ini telah melakukan tahkim (menetapkan keputusan) dengan hukum buatan manusia (yakni Abu Musa dan Amr), karena menurut mereka Inil Hukmu Illa Lillah (hukum itu hanya milik Allah).



Jadi, lantaran peristiwa politik ini, berbuntut lahirnya dua gerakan teologi ekstrim, yakni Syi’ah (pengikut) Ali dan Khawarij (dari kata kharaja artinya keluar) yang mengkafirkan Ali. Sementara Ahlus Sunnah yakni jumlah mayoritas bersikap seadil-adilnya, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti.







3. Sikap Kaum Nashibi



Syaikh Said bin Ali Wahf Al Qahthani mengatakan:



“An Nawashib, mereka memproklamirkan permusuhan terhadap Ahli Bait dan melaknat apa-apa yang ada pada mereka.” (Syaikh Said bin Ali, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 59)



Mereka memusuh Ali, Fathimah, dan semua keturunannya. Perbedaannya dengan khawarij adalah khawarij selain Ahlul Bait dan pengikutnya, juga melaknat Muawiyah dan pengikutnya.



4. Sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah



Syaikh Muhammad Khalil Hiras mengatakan:



وَأَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ؛ فَكَانُوا وَسَطًا بَيْنَ غُلُوِّ هَؤُلَاءِ وَتَقْصِيرِ أُولَئِكَ ، وَهَدَاهُمُ اللَّهُ إِلَى الِاعْتِرَافِ بِفَضْلِ أَصْحَابِ نَبِيِّهِمْ ، وَأَنَّهُمْ أَكْمَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِيمَانًا وَإِسْلَامًا وَعِلْمًا وَحِكْمَةً ، وَلَكِنَّهُمْ لَمْ يَغْلُوا فِيهِمْ ، وَلَمْ يَعْتَقِدُوا عِصْمَتَهُمْ ؛ بَلْ قَامُوا بِحُقُوقِهِمْ ، وَأَحَبُّوهُمْ لِعَظِيمِ سَابِقَتِهِمْ وَحُسْنِ بَلَائِهِمْ فِي نُصْرَةِ الْإِسْلَامِ وَجِهَادِهِمْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

“Ada pun Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka golongan pertengahan antara yang mereka yang ekstrim dan mereka yang meremehkan. Allah telah memberikan mereka petunjuk untuk mengetahui keutamaan para sahabat nabi mereka, dalam umat ini mereka adalah yang paling sempurna keimanan, keislaman, keilmuan dan hikmah. Tetapi mereka tidak pernah melampaui batas terhadap para sahabat, tidak meyakini mereka memiliki ‘ishmah (bebas dari dosa), bahkan mereka bersikap sesuai hak para sahabat, mencintai mereka lantaran terdahulunya mereka dan bagusnya ujian mereka dalam membela Islam dan jihad mereka bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 254)



Syaikh Said bin Ali Wahf Al Qahthani mengatakan:



“Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah memberikan hidayah kepada mereka untuk tetap di atas kebenaran. Mereka bersikap tidak melampaui batas terhadap Ali Radhiallahu ‘Anhu dan Ahli bait, mereka tidak memusuhi para sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim, tidak mengkafirkannya, tidak pula bersikap seperti golongan Nawashib yang memusuhi Ahli bait.

Bahkan mereka mengetahui hak keseluruhan mereka dan keutamaannya, dan mengikuti mereka serta mengutamakan mereka sesuai urutannya; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Radhiallahu ‘Anhum. Dan mereka tidak mau memasuki apa-apa (perselisihan, pen) yang terjadi di antara sahabat. Maka, mereka (Ahlus Sunnah) pertengahan antara ekstrimitas rafidhah atau sikap keras khawarij. (Syaikh Said bin Ali, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 59)



Ahlus Sunnah senantiasa menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman mereka dalam hidup, termasuk dalam menyikapi kedudukan para sahabat Radhiallahu ‘Anhum. Ahlus Sunnah bersikap sebagaimana Al Quran dan As Sunnah bersikap.



Pujian Allah ‘Azza wa Jalla terhadap Para Sahabat



Allah Ta’ala berfirman:



مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Fiqih Da’wah: Antara tasyaddud (yang keras) dan tasahhul (kebablasan) Oleh Farid Nu'man


Seorang Al Akh bercerita, ada seorang ustadz ingin menda’wahi suku dayak pedalaman, mereka adalah suku yang tidak mengenal batas aurat. Hal yang biasa bagi mereka keluar rumah mengenakan celana dalam saja. Suatu hari, Al Akh ini bersama beberapa kawannya berkunjung ke rumah ustadz tersebut. Al Akh ini begitu terkejut, karena ustadz tersebut menyambutnya hingga ke luar rumah hanya mengenakan celana dalam saja. Ketika ditegur, ustadz itu mengira bahwa yang datang adalah orang-orang Dayak yang menjadi objek da’wahnya! Jadi, ia seperti itu agar lebih diterima di masyarakat Dayak.

********
Sementara itu, ada pula launching calon Gubernur Ibu Kota –agar lebih merakyat, pluralis, dan inklusif-di dalamnya ada hiburan musik bekerjasama dengan seorang enteirner ternama. Di antara beragam acaranya, akhirnya ada request dari penonton untuk menyanyikan dangdut, tanpa daya ditolak oleh panitia. Akhirnya terjadilah telah yang terjadi. Sang artis dangdut dengan segala kemaksiatan dan goyangannya. Sementara penontonnya adalah wanita berjilbab rapi, ibu-ibu pengajian, dan laki-laki yang faham agama. Sebagaimana yang santer diberitakan (detik.com), sebagian penonton ada juga yang berjoget ria. Manusia pun terheran-heran, sementara kaum pendengki semakin membencinya. Jika sudah seperti itu, maka tidak jelas lagi mana yang ikut joget atau tidak. Mana syetan, mana yang shalih? Tidak jelas! Yaa hasratan ’alal ’Ibaad! Betapa besarnya penyesalan hamba-hamba itu! Rasulullah Shalallahu ’Alaihi wa Sallam mencela dengan keras, bahkan teramat keras, bahwa wanita yang melenggak-lenggokan tubuhnya di depan laki-laki yang bukan mahram, jangankan surga, baunya pun tak dia dapatkan. Yang joget berdosa, penontonnya berdosa, pemrakarsa (tim sukses) acara berdosa. Lalu, jika itu diikuti tim sukses calon lain, maka yang pertama kali mengadakan akan terus mendapatkan akumulasi dosa dari yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa pihak yang mengikutinya. Sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim. Entah, apakah ada pertimbangan fiqih da’wah? Dan fiqih da’wah model apa yang digunakan. Yaa Allah .... seandainya masyayikh da’wah seperti Syaikh Hasan al Banna melihat ini, atau Syaikh Said Hawa dan Syaikh Sayyid Quthb yang jelas-jelas mengharamkan penghasilan para artis, niscaya mereka akan mengingkari dengan teramat keras dan menyebutnya sebagai salah satu bentuk jahiliyah abad dua puluh! Alasan fiqih da’wah, tidak boleh menghalalkan yang jelas-jelas haram, seperti dangdut, dengan segala simbol maksiat yang ada di dalamnya, baik dengan joget atau tidak, sama saja. Sebenarnya bukan hanya dangdut, musik jahiliyah apa pun secara esensi sama saja, baik itu rock, pop, jazz, dan lain-lain. Masih bagus mereka bekerjasama dengan Opick, atau SNADA. Jika dikatakan: ”itu semua terjadi diluar kendali.” Maka, seharusnya siapa saja yang terlibat di dalamnya harus hati-hati, tidak lalai, memperhatikan halal-haram, serta memperhatikan nasib citra positif yang telah lama dibangun. Ini mengingatkan kami tokoh pemikir politik Barat dahulu, yakni Nicolo Machiaveli yang berprinsip tubarrirul washilah (menghalalkan segala cara) untuk mencapai tujuan politiknya. Inilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. Sungguh, ini adalah marah karena Allah ’Azza wa Jalla. Hampir tiga puluh tahun da’wah dibangun oleh ribuan kader, jangan sampai dirubuhkan oleh segelintir manusia dengan tujuan sesaat. Bukankah aku telah menyampaikan? Allahummasyhad (Ya Allah saksikanlah!)
********
Kami pernah mengalami, berjalan bersama seorang ustadz di kampung kami tinggal, sekitar tahun 1997M. Saat itu selesai shalat tarawih, kami melewati sekelompok anak muda yang tengah asyik main catur, ternyata di antara mereka adalah keponakan dari ustadz ini. Marahlah ustadz tersebut, ia membanting papan catur, membuat para pemuda berlarian. Keesokan harinya, para pemuda ini bukannya surut, justru membuat berita miring tentang si ustadz dan remaja mesjid. Anak-anak muda tersebut bahkan menjadi musuh da’wahnya, lantaran sikap keras ustadz itu.

*******

Demikianlah dua gambaran berlawanan, kasus pertama dan kedua, adalah contoh untuk yang kebablasan, adapun yang ketiga adalah contoh untuk yang tatharruf (ekstrim).

Manhaj Tawasuth (pertengahan)

Inilah sikap yang kami ambil, semoga selamanya tidak bergeser dari manhaj ini. Termasuk dalam urusan da’wah. Karena demikianlah Islam sebenarnya dan –justru- menjadi musuh besar orang kafir. Sebab sikap ini, justru banyak diminati umat manusia, dengan pertumbuhan yang cepat, sehingga menjadi ancaman besar bagi Barat. Sementara yang keras, cenderung mempersempit dan mempersulit, atau yang kebablasan yang cenderung mengajak bebas nilai, paling tidak peluruhan nilai yang melewati ambang batas; justru semakin menepi dan marjinal.

Allah Jalla wa ’Ala berfirman:
“Dan Kami jadikan kalian sebagai umatan wasathan” (QS. Al Baqarah: 143)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir ummatan wasathan berarti umat yang adil, pilihan dan terbaik. Dikatakan, “Quraisy adalah suku pertengahan di Arab secara garis keturunan (nasaban) dan negri tempat tinggal (Daaran), yaitu sebagai suku terbaik di sana. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pertengahan (wasathan) di antara kaumnya, yaitu yang paling mulia nasabnya, darinya ada istilah shalat wustha yaitu shalat paling utama, yakni Ashar.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul Azhim, 1/190)

Penulis Syarh al Aqidah al Wasithiyah mengatakan, “Umat Islam adalah pertengahan antara agama-agama (milal), sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan (umatan wasathan).” (QS. Al Baqarah:143), sedangkan Ahlus Sunnah adalah pertengahan antara firaq (kelompok-kelompok) yang disandarkan kepada Islam. (Said bin Ali bin Wahf al Qahthany, Syarh al Aqidah al Wasithiyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyah rahimahullah, hal.48. muraja’ah. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin. Cet.2, Rabiul Awal 1411H. Penerbit: Ri-asah Idarat al Buhuts al ‘Ilmiyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad)

Khalifatur rasyid kedua, Umar al Faruq Radhialllahu ’Anhu berkata, ”Khairul umuur awsathuha.” (Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan).

Apakah yang dimaksud dengan pertengahan itu? Yaitu kita berjalan di atas mizan (timbangan) dan pedoman yang sehat dan seimbang, tak ada keraguan di dalamnya, tak ada kebatilan baik dari depan atau belakangnya, tak ada yang bengkok baik ujung atau pangkalnya, yaitu manhaj Al Qur’an dan As Sunnah, dengan pemahaman umat pertengahan, yakni Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Allah Ta’ala berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (QS. Al Mulk: 3)

Fiqih Da’wah Terhadap yang Jelas-Jelas Haram

Terhadap perkara yang jelas-jelas mungkar, haram, bid’ah, khurafat, syirik, dan tak ada perselisihan para ulama tentang status hukumnya, maka fiqih da’wah kita adalah memeranginya, dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.

Dari Abu Said al Khudri Radhiallahu ’Anhu, aku dengar Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu rubahlah dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim. Riyadhus Shalihin, Bab al Amr bil Ma’ruf wa An Nahyi ’an al Munkar,no. 184)

Ada beberapa syarat memerangi kemungkaran, yaitu kemungkaran tersebut harus yang jelas disepakati bukan masalah ijtihadi atau masih khilafiyah, dan kemungkaran itu harus nampak bukan dicari-cari.

Beberapa contoh kemungkaran yang qath’i (pasti) seperti lokalisasi pelacuran, perjudian baik cara tradisional atau modern dengan undian berhadiah atau kirim SMS, konser-konser musik jahiliyah dengan penonton yang campur baur laki-laki dan perempuan, minuman keras, mengambil harta secara tidak hak seperti korupsi, mencuri atau merampok, perdukunan dan sihir. Masih banyak yang lain.

Bagi yang mampu merubah dengan tangan yakni kekuatan seperti waliyyul amri (pemerintah) maka ubahlah dengan kebijakan, undang-undang, atau dengan aparat keamanan yang Anda miliki.

Bagi para da’i ubahlah dengan seruan-seruan, kajian, tadzkirah (peringatan), diskusi, seminar, atau mengingatkan waliyyul amri tentang tugasnya menciptakan keamanan dan kenyamanan hidup, dan bebas dari segala penyakit sosial. Bagi yang bisa menulis, maka tulislah peringatan melalui bulletin, majalah, buku, atau selebaran. Bagi yang tidak bisa apa-apa, maka ubahlah dengan hati Anda, yang penting Anda tidak menyetujuinya, apalagi terbawa arusnya. Itulah selemahnya iman.

Ketetapan Islam yang telah menjadi aksioma, selamanya tidak akan berubah. Keharaman khamr adalah abadi, sedikit atau banyak, sampai mabuk atau tidak, dan berlaku dimana saja, Anda di kutub atau di gurun. Riba adalah haram, sedikit atau berlipat-lipat. Kewajiban menutup aurat juga berlaku abadi dan di mana saja, tidak ada perubahan, walau berda’wah kepada kaum berkoteka. Selamanya lenggak lenggoknya wanita di depan laki-laki bukan mahram adalah haram, apa pun keperluannya, akting, kampanye, apalagi sengaja memancing syahwat laki-laki. Masih banyak ketetapan lainnya.

Adapun yang bisa berubah karena perubahan kondisi, keadaan, dan zaman, adalah hal-hal yang sifatnya ijtihadi dan zhanni, atau yang tidak ada pembahasan sama sekali di dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Intinya kemungkaran harus dihilangkan dengan cara yang baik dan terbaik, disesuaikan dengan kemampuan, kondisi masyarakat, dan kalkulasi dampaknya.

Allah Jalla wa ’Ala berfirman:
”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl (16): 125)

Kemungkaran yang bisa dihilangkan lalu diganti dengan yang lebih baik, maka hukumnya wajib kita mengubahnya. Kemungkaran yang berkepanjangan yang bisa dirubah menjadi kemungkaran yang le bih singkat, maka wajib kita merubahnya. Kemungkaran yang dirubah namun lahir kemungkaran baru yang sama, maka silakan berijtihad untuk merubah atau tidak. Kemungkaran yang dirubah namun justru melahirkan kemungkaran yang lebih besar, maka haram dilakukan perubahan. Demikianlah kaidah emas dalam urusan inkarul munkar.

Fiqih Da’wah Terhadap yang Jelas Kebolehannya

Pada dasarnya hukum asal segala sesuatu di dunia adalah halal dan suci. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian.” (QS. Al Baqarah (2): 29)

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda:
”Yang halal adalah apa-apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, dan yang haram adalah apa-apa yang Allah haramkan dalam kitabNya. Maka, apa-apa yang didiamkan olehNya, maka itu termasuk yang dimaafkan olehNya.” (HR. Tirmidzi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ”Asal segala sesuatu –dengan segala perbedaan bentuk dan sifatnya- adalah halal secara mutlak bagi anak Adam, suci, dan tidak diharamkan atas mereka untuk menyentuh atau memegangnya.”

Para ulama juga membuat kaidah, Al Ashlu fil Asyya al Ibahah illa ma warada ‘anis Syaari’ tahrimuhu. Hukum asal segala sesuatu adalah boleh kecuali ada dalil dari pembuat syariat tentang haramnya.

Intinya, bidang yang dihalalkan sangat luas dan banyak, dibanding yang diharamkan atau dilarang. Maka, sudah selayaknya kita menyikapinya dengan tidak mempersempit dan mempersulit apa-apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla lapangkan.

Sesuatu disebut boleh atau halal (dalam urusan dunia, bukan ritual ibadah), jika ia; tidak ada dalil yang melarangnya, tidak bertentangan dengan dalil khusus atau umum syariat Islam, tidak membawa mudharat atau membahayakan baik untuk pribadi atau orang lain, tidak berlebihan atau melampaui batas, tidak bertentangan dengan kaídah-kaidah pengharaman.

Ada tradisi baik di sebagian tempat yaitu membagikan makanan ke tetangga menjelang hari raya, bahkan tradisi ini sesuai dengan akhlak Islam agar kita memuliakan tetangga. Namun, lebih baik lagi jika hal itu tidak harus menunggu menjelang hari raya. Tradisi arisan, sebenarnya ini sesuai dengan akhlak Islam untuk saling menyambung silaturrahim dan ta’awun sesama muslim, selama di dalamnya tidak ada ngerumpi (ghibah).

Ini semua adalah contoh apa-apa yang Allah ’Azza wa Jalla diamkan dan maafkan. Sikap kita adalah membuka peluang untuk terjadinya. Walau bisa jadi kita ingin menjadi pribadi wara’ dengan menghindari yang mubah agar terhindar dari hal yang haram (baca: Sadudz Dzara’i), maka lakukanlah hal itu tanpa memaksakan kepada orang lain.

Fiqih Da’wah Terhadap Perkara yang Masih Diperselisihkan

Pemimpin atau Terpimpin


Setiap kita adalah pemimpin. Yang membeDakan kita adalah bgmn memaknai kepemimpinan itu..
Perjalanan setiap moment kehidupan akan berarti bg setiap individu bila mrk bisa menggambil hikmah bgmn kedepan..
Awal dan akhir kepimpinan itu ada di tangan setiap kita yg merasa ingin ada perubahan yg bk dalam hidup kita. . Karena dlm hidup yg menjadi peran dalam setiap kgtn apapun itu adalah manusia. Manusia yg trcpt sebg lakon,baik dan buruk nya biar lah proses y yg menentukan..
Tepat hari ini 28 oktober dimana dr ujung sabang hingga mauroke orang2 merayakan makna yg sudah tak asing lagi yaitu "Sumpah Pemuda". Disini setiap org memiliki pendapat bgmn merayakan nya. Seminar,ucapan,upaCara bAhkan byk Lg yg dlakukan masyrkt Indonesia pada umum nya merayakan..
Kalau kita menyadari lbh dalam akan kebAngGan itU harus y bkn Untk Sumpah Pemuda,tp Kita sbg PribAdi Robbani seharusnya memandang nya ckp lah untk dikenang dan membAngGakan Ternyata yg seharus nya kepemimpinan yg kita ikuTi adalah dimana Rasul dan Para sahaBat dahulu dalam memperjuangkan Pemuda yg zalim mjd baik..Dgn menteladani Rasul dan para sahaBat Lah seharus y kita memaknai bgmn momen SUMPAH PEMUDA.

Lihat Lah yang Nyata


Gunung mengHampar Luas penduduk bumi. Seakan memberi kan isyarat Bahwa TingGi y Tingkah kita tidak bisa menandingi.. Lautan Luas berombak hulu dan hilir seakan-akan mengajar kan kita tuk truz mpRbk.. Cakrawala bersinar dan bercAhaya menghujam Langit menembus awan dan Keindahan nya menunjukan Betapa Besar Y alam penciptaan ini.. Udara yg berganti dsetiap k0nDisi y seakan mengakat Tubuh untk memilih ketegasan dalam pilihan..

Semua Yang Terjadi itu Tiada Rekayasa


Lama sudah tak mengoreskan kata demi kata di bagian kotak kecil datar ini melalui ketikan jemari demi jemari berSahuT satu demi satu ikatan rajutan nya.. Semoga bukan lah pahatan yg hanya sekedar nya saja. Tapi jg menginspirasi pribadi ini...
" Awal dari bermula nya kejadian 1bln lalu itu terjadi hanya ketika ku dan teman ku 2 Gempor bAhwa ku akan berkunjung ke kota pelajar. Langsung saja ku sahuT minggu depan.. Dan mereka meng Amin kan perkataan ku..
"benar kata pepatah dan kbykn orang bilang bahwa Perkataan itu adalah Doa"
semingGu merasakan nya dgn byk cerita yang akan ku rajut dalam sebuah Buku inspirasi The Journey of Jogja with FULDKIP, TuNGgU saja.

CINTA MU CINTA APA????? UNTUK SIAPA????

Ungkapan seorang Sahabat
”Cinta itu adalah air mata yang menetes ketika sedang merindu. Merasa
empatiterhadap yang di cintai”
Bagaimana dengan sahabat??? Setuju tidak ???  Mau setuju atau tidak itu bukan lah masalah tapi yang terpenting catatan kali ini akan merefleksi akan makna CINTA itu sendiri. Yuk kita refleksi.
CINTA.... Sesuatu yang memang sulit dimengerti, datang dengan tiba-tiba tanpa bersuara dan pergipun secepat kilat tanpa kita sadari. Lenyap tanpa bekas, bahkan seringkali tergantung dengan lawan dari cinta itu sendiri yaitu benci. Membicarakan tentang cinta ibarat menguras air lautan dalam yang kaya dengan berbagai khazanah alam. Usia sejarah cinta pun sesuai dengan sejarah manusia itu sendiri. Jika di suatu tempat ada 1000 manusia maka di situ akan ada 1000 kisah cinta yang akan di gelar.

%Kehidupan itu Indah% Mengambil Hikmah dari seorang yang Kaya Hati dan Jiwa nya.


Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda satu dengan yang lain nya,sampai saja itu lah keindahan sang pencipta menciptakan manusia yang tidak bisa orang sehebat sang pencipta itu menciptakan nya.

Kalender Hijriah

 
Copyright © 2013. LDSI At-tarbawi - All Rights Reserved
Published by LDSI At-tarbawi
Proudly powered by Blogger