Kali ini kita akan melihat bagaimana konsep Ahlus Sunnah dalam bersikap terhadap sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Selain itu, akan kita lihat juga bagaimana beberapa firqah (kelompok) seperti syi’ah, khawarij, dan nashibi, terhadap para sahabat. Kita akan lihat bahwa Ahlus Sunnah adalah madzhab pertengahan yang mendapatkan petunjuk dari Allah ‘Azza wa Jalla dalam menyikapi berbagai persoalan.
1. Sikap Kaum Syi’ah (Rafidhah)
Berkata Syaikh Muhammad Khalil Hiras tentang mereka
الْمَعْرُوفُ أَنَّ الرَّافِضَةَ قَبَّحَهُمُ اللَّهُ يَسُبُّونَ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ، وَيَلْعَنُونَهُمْ ، وَرُبَّمَا كَفَّرُوهُمْ أَوْ كَفَّرُوا بَعْضَهُمْ ، وَالْغَالِبِيَّةُ مِنْهُمْ مَعَ سَبِّهِمْ لِكَثِيرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالْخُلَفَاءِ يَغْلُونَ فِي عَلِيٍّ وَأَوْلَادِهِ ، وَيَعْتَقِدُونَ فِيهِمُ الْإِلَهِيَّةَ وَقَدْ ظَهَرَ هَؤُلَاءِ فِي حَيَاةِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزِعَامَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبَأٍ الَّذِي كَانَ يَهُودِيًّا وَأَسْلَمَ وَأَرَادَ أَنْ يَكِيدَ لِلْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ ؛ كَمَا كَادَ الْيَهُودُ مِنْ قَبْلُ لِلنَّصْرَانِيَّةِ وَأَفْسَدُوهَا عَلَى أَهْلِهَا ، وَقَدْ حَرَّقَهُمْ عَلِيٌّ بِالنَّارِ لِإِطْفَاءِ فِتْنَتِهِمْ.
“Telah diketahui, bahwa kaum rafidhah –semoga Allah burukkan mereka- telah mencaci para sahabat Radhiallahu ‘Anhum, bahkan ada yang mengkafirkan mereka atau mengkafirkan sebagiannya, mayoritas mereka telah mencela kebanyakan para sahabat dan khalifah, dan mereka mengkultus Ali dan anak cucunyanya, dan mereka meyakini mereka (Ali dan anak cucunya) memiliki sifat ketuhanan. Mereka ini nampak pada masa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang masuk Islam dengan tujuan membuat tipu daya terhadap Islam dan pemeluknya, sebagaimana Yahudi terdahulu telah membuat tipu daya terhadap Nasrani dan pemeluknya untuk merusak mereka. Maka, Ali bin Abi Thalib menghukum mati mereka dengan membakarnya demi menutp fitnah yang mereka hasilkan.” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 253. Ar Riasah Al ‘Amah Li Idarat Al Buhuts Al ‘ilmiyah wal Ifta’ wal Da’wah wal Irsyad)
Sementara itu, Syaikh Said bin Ali Wafh Al Qahthani dalam kitabnya, yang berjudul sama, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah berkata lebih luas lagi sebagai berikut:
“Ar Rafidhah, yaitu segolongan dari syiah, mereka melampaui batas (ghuluw) dalam memuliakan Ali Radhiallahu ‘Anhu dan Ahli Bait. Mereka memproklamirkan permusuhan terhadap mayoritas sahabat nabi seperti yang tiga (Abu Bakar, Umar, dan Utsman, pen), mengkafirkan mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan mengkafirkan orang-orang yang memerangi Ali (yakni Aisyah dan pengikutnya ketika perang Jamal, atau Mu’awiyah dan pengikutnya dalam perang Shiffin, pen).
Mereka mengatakan sesungguhnya Ali adalah Imam yang ma’shum. Alasan kenapa mereka dinamakan rafidhah, karena mereka meninggalkan (rafadhuu) Zaid bin Ali bin al Husein ketika mereka mengatakan berlepas diri dari syaikhain (dua syaikh) yaitu Abu bakar dan Umar. Maka Zaid berkata: “Allah melindungi penolong kakekku” (maksudnya Allah melindungi Abu Bakar dan Umar, yang pernah menolong kakeknya, Ali bin Abi Thalib, pen). Karena itu, mereka meninggalkannya, maka mereka dinamakan rafidhah.
Sedangkan kelompok Zaidiyah mereka mengatakan, kami mengikuti mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) dan berlepas diri dari orang yang memutuskan hubungan dengan mereka berdua, dan mereka mengikuti Zaid bin Ali bin al Husein, karena itu mereka disebut Zaidiyah (lebih tenar disebut syiah zaidiyah, syiah yang moderat, pen). (Syaikh Said bin Ali Wahf Al Qahthani, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 57. Mu’asasah Al Juraisi)
Demikian jahatnya mereka terhadap para sahabat nabi, sampai-sampai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menceritakan:
وفضلت اليهود والنصارى على الرافضة بخصلتين سئلت اليهود من خير أهل ملتكم قالوا أصحاب موسى وسئلت النصاري من خير أهل ملتكم قالوا حواري عيسى وسئلت الرافضة من شر أهل ملتكم قالوا أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أمروا بالاستغفار لهم فسبوهم
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih baik daripada orang-orang Rafidhah dalam dua perkara. Aku pernah bertanya kepada orang-orang Yahudi, “Siapakah orang Yahudi yang terbaik?’ mereka menjawab; para sahabat Musa. Aku pernah bertanya kepada orang-orang Nasrani; ”Siapakah orang nasrani yang paling baik?” mereka menjawab para,” Hawari ‘Isa. “Aku juga bertanya kepada orang-orang Rafidhah,” Siapakah manusia yang paling buruk?” mereka menjawab,”Sahabat Muhammad -Shallallahu 'alaihi wa sallam-. Begitulah mereka diperintahkan agar beristighfar untuk mereka (para sahabat), tetapi justru mencela mereka…”. (Minhajus Sunnah, Juz. 1, Hal. 27. Tahqiq: Muhammad Rasyad Salim. Jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh)
Syi’ah Al Imamiyah Itsna ‘Asyariyah (Imam 12) Menganggap Para sahabat telah Murtad dan Munafik
Syi’ah aliran ‘Imam 12’ adalah syi’ah mayoritas yang ada saat ini. Menurut mereka sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seluruh para sahabat telah murtad, kecuali Abu Dzar, Salman, dan Miqdad. Salah seorang tokoh besar mereka, At-Tusturiy berkata, “Sebagaimana Musa telah datang untuk memberi petunjuk dan berhasil memberi petunjuk kepada banyak orang dari kalangan Bani Israil dan selain mereka, lalu mereka murtad di saat Musa masih hidup dan hanya Nabi Harun ‘Alais Salam saja yang bertahan di atas keimanannya, demikian pula Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah datang dan memberi petunjuk kepada banyak orang, akan tetapi mereka murtad sepeninggal beliau.” (At Tustury, Ihqaqu Al Haq, Hal. 316)
Dia juga berkata, “Mereka sebenarnya tidak memeluk Islam tapi hanya menginginkan kedudukan Nabi….. selalunya mereka menyandang kenifakan dan mengalirkan perselisihan.” (Ibid, Hal. 3)
Inilah tuduhan keji kaum Syi’ah terhadap para sahabat yang telah Allah ‘Azza wa Jalla muliakan dalam Al Quran (nanti akan kami buktikan), dan dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tuduhan ini justru bertentangan dengan perkataan Imam mereka sendiri, yaitu Imam Ja’far Ash Shadiq.
” Sahabat Rasul Shallalahu ‘Alahi Wasallam ada 12 000 orang, 8000 dari Madinah dan 1000 dari Makkah dan 2000 dari Thulaqa.Tidak terlihat diantara mereka orang Qadariyah, Haruriyah, Mu’tazilah ataupun penyembah akal, mereka menangis siang dan malam dan berkata ,” Ambilah nyawa kami sebelum kami memakan roti beragi.” (Hasan Asy Syirazi, Asy Sya’air Al Husainiyah, Hal. 8-9)
Bukti-bukti Kejahatan Pemikiran Syi’ah Terhadap Para Sahabat Nabi
Kami akan buktikan kejahatan mereka terhadap para sahabat, khususnya kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan ‘Aisyah. Juga akan kami paparkan secara global kejahatan mereka terhadap para sahabat nabi lainnya. Walaupun catatan kejahatan mereka terhadap sahabat lain juga sangat banyak.
Kejahatan Terhadap Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhuma
Mereka telah membuat kisah-kisah dusta mengatasnamakan orang-orang mulia. Mereka mengatakan bahwa ketika Ali hendak di bai’at, Ali berkata:” Bertepuklah, Allah telah melaknat dua orang”. (Ash Shafar, Bashirud Darajah Al Kubra, Hal. 412) Dalam As Saqifah, Sulaim Bin Qois mengatakan Ali senantiasa melaknat syaikhani (dua orang Syaikh, yakni Abu Bakar dan Umar). Demikian pula- menurut anggapan mereka- Imam Ja’far Ash Shadiq melaknat keduanya setiap selesai shalat wajib. (Al Kurky, Nufatu Al Lahut, q 6/alif 774/ba’)
Kaum syi’ah juga bersemangat mengarang doa-doa dusta yang berisi laknat atas Abu Bakar dan Umar, lalu mereka mengklaim bahwa doa tersebut dikarang oleh Ali, dan Ali senantiasa membacanya ketika qunut. Semoga Allah Ta’ala memburukkan wajah para pendusta itu.
Diantaranya satu do’a yang berjudul “ Do’a untuk dua berhala quraisy”. Do’a ini merupakan do’a khusus bagi kaum Syi’ah dalam melaknat Syaikhani dan dua putrinya yang menjadi isteri Rasul Shalallohu ‘Alaihi Wasalam. Menurut mereka Ali Bin Abi Thalib Radiyallahu 'Anhu juga berqunut dengan do’a ini dalam shalat witirnya. (Al Kasyani, Ilmu Al Yaqin, 2/701)
Kepada Imam Ahli Bait mereka menisbahkan keutamaan hadits ini- yang semuanya adalah dusta- bahwa barang siapa yang membaca do’a ini sekali Allah akan menulis baginya 70.000 kebaikan, menghapus 70.000 keburukan dan mengangkat 70.000 derajat serta memenuhi puluhan ribu kebutuhannya. (Dhiya’u Ash Shalihin, hal.513)
Bahkan, kaum Syi’ah telah memberikan pembelaan terhadap Abu Lu’Lu’ah seorang kafir Majusi pembunuh Umar Al Faruq. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
وينتصرون لأبي لؤلؤة الكافر المجوسي ومنهم من يقول اللهم أرض عن أبي لؤلؤة واحشرني معه
“Mereka membela Abu Lu’lu’ah, seorang kafir Majusi, dan di antara mereka ada yang berdoa: “Ya Allah ridhailah Abu Lu’lu’ah, dan kumpulkanlah aku bersamanya.” (Minhajus Sunnah, Juz. 6, Hal. 370-371) Ya! Semoga mereka dikumpulkan bersama Abu Lu’Lu’ah ....
Ash Shaduq meriwayatkan –riwayat dusta- dari Ja’far Ash Shadiq beliau berkata,” Neraka itu memilki tujuh buah pintu yang akan dimasuki Fir’aun, Hamman dan Qarun….”.(Ash Shaduq, Al Khishal, 2/361-362) menurut mereka, Fir’aun adalah Abu Bakar, Hamman adalah Umar, dan Qarun adalah Abdurrahman bin ‘Auf. (Al Kasyani, Ilmul Yaqin, 2/732)
Inilah sebagian kecil saja kejahatan mereka terhadap Abu Bakar dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma.
Kejahatan Terhadap Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘Anhu
Kedustaan selanjutnya adalah kejahatan mereka terhadap dzu nurain, Utsman bin Affan. Mereka menjulukinya Na’tsal (anjing hutan jantan), mereka menyebut beliau dengan nama itu karena menurut mereka ada kemiripan yang sangat antara Sahabat Utsman Bin Affan Radhiallahu ‘Anhu dengan anjing hutan jantan. Anjing hutan jantan jika memburu mangsanya ia menyetubuhinya terlebih dulu baru memakannya, sedang Utsman Bin Affan – beliau suci dari tuduhan ini- Ia menetapkan hukum had bagi seorang wanita lalu ia menjima’nya untuk kemudian menyuruh merajamnya. ( At Tusturi, Ihqaq Al Haq, Hal. 306) demikianlah kedustaan mereka.
Mereka menisbatkan sebuah perkataan dusta kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu bahwa ia berkata tentang Utsman,”Hasratnya hanya perut dan kemaluan: Diriwayatkan dari Al Kulaini dengan sanadnya dalam kitab Al Kafi dari Ali Bin Abi Thalib ia berkata dalam salah satu khutbahnya,” Dua orang telah mendahului, dan yang ketiga seperti burung gagak, hasratnya hanya perut dan kemaluanya, celakalah ia jika sayapnya digunting dan kepalanya dipotong niscaya itu lebih baik baginya. (Ibnu Tawus, At Taraf, hal 417)
Bukan hanya itu, kaum Syi’ah juga mengkafirkan Utsman dan orang-orang yang tidak mencela Utsman. Ni’matullah Al Jaza’iri berkata :”Sesungguhnya Utsman dizaman Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan nifak.”
Al Kurky berkata, ”Sesungguhnya orang yang dihatinya tidak memusuhi Utsman, menghalalkan kehormatannya dan tidak meyakini kekafirannya maka dia adalah musuh Allah dan RasulNya, kafir terhadap apa yang diturunkan Allah.” (Al Kurky, Nufhatu Al Lahut, q 57/alif)
Inilah sebagian kecil saja kejahatan mereka terhadap Utsman Radhiallahu ‘Anhu.
Kejahatan Syi’ah Terhadap ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha
Syi’ah juga mengarang cerita bahwa Aisyah memiliki satu pintu di Neraka yang bakal dimasukinya. Al Ayashy menyandarkan riwayat kepada Ja’far Ash Shadiq Rahimahullah– Dan sungguh ia suci dari apa yang mereka nisbahkan- Ia berkata mengenai tafsir ayat Al Qur’an tentang neraka” "لها سبعة أبواب" ( ia memiliki tujuh pintu):” Jahanam didatangkan,ia memiliki tujuh buah pintu…dan pintu ke enam untuk askar…dst. (Al-Majlisy, Biharul Anwar, 4/378)
Askar adalah kinayah (perumpamaan) dari Aisyah RA, sebagaimana dituduhkan Al Majlisi. Al Majlisi menerangkan dinamakan demikian karena diwaktu perang Jamal beliau mengendarai Unta yang bernama Askar. (Al-Baidlawy, Ash Shiratul Mustaqim, 3/131)
Tak puas dengan ini, kaum syi’ah menjuluki beliau dalam beberapa kitab Syi’ah dengan “Ummu Syurur” (Ibid) yang berarti “ Biang kejelekan” dan “ Syaithanah” (Ash Shaduq, Al-Khishalu, 1/190) artinya “setan perempuan”. Mereka menuduhnya telah berdusta kepada Rasulullah. (Al Kalibiy, Al Ushulu minal Kafi, 1/247) Dan bahwa sebutan “ Khumaira’” adalah gelar yang dibenci Allah. (Al-Muhibbu Ath Thabary, As-Samthu Ats Tsamin fi Manaqibi Ummahatil Mukminin, hal. 30) Jadi menurut Syi’ah, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha adalah kafir, tidak beriman dan termasuk ahli neraka.
Inilah sebagian kecil saja kejahatan mereka terhadap ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha.
Kejatahan Syi’ah Terhadap Para Sahabat Nabi lainnya
Al Kurki dan Al Majlisi- para pembesar ulama syi’ah- menyebutkan bahwa Ja’far Ash Shadiq –dan sungguh beliau jauh dari apa yang mereka tuduhkan- melakanat setiap kali selesai shalat empat orang laki-laki : At Tamimy Al’Adawy – Abu Bakar dan Umar-, Utsman dan Muawiyah. Dan empat orang perempuan : Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummu Hakam, saudara Muawiyah. (Al Majlisy, ‘Ainul Hayah, hal. 599)
Dalam hal melaknat dan tentang sikap berlepas diri mereka : Ibnu Rahawaih Al Qummi –bergelar Ash Shaduq- dan Al Majlisi menukil ijma’ kaum Syi’ah akan hal tersebut, keduannya berkata:” Aqidah kita dalam Al Bara’ adalah : Kita berlepas diri dari empat berhala : Abu Bakar Umar, Utsman dan Muawiyah. Dan empat orang wanita: Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummul Hakam juga seluruh pengikut serta golongannya. Dan mereka adalah seburuk-buruk makhluq di muka bumi. Dan tidak sempurna iman seseorang kepada Allah, Rasul dan para Imam kecuali setelah bara’ dari musuh-musuhnya”. (Ash-Shaduq, Al Hidayah, Q 110/A dan Al Majlisy, Haqqul Yaqin, hal. 59)
Al Bara’ artinya berlepas diri, memusuhi, dan benci. Demikianlah pengakuan mereka sendiri terhadap para sahabat nabi dan isterinya, bahkan sikap itu menjadi standar keimanan bagi mereka.
Mereka juga menuduh Muawiyah masih saja melakukan kesyirikan dan menyembah berhala meski sudah masuk Islam hingga sekian lama. (Az Zanjani, Aqaid Syi’ah Imamiyah Al Itsna Asyariyah, 3/61). Ia menampakkan keislamannya hanya berselang lima bulan sebelum Nabi wafat. (Al Kurki, Nufhatu Al Nufhatu Al Lahut, qaf 14/ba’-1526/alif) dan masuk Islam hanya karena takut akan pedang (Muhammad Ali Al Hasani, Fi Zhilali At Tasyayu’, hal 286) oleh sebab itu ia hanya muslim namanya saja karena ia masih seperti kaum jahiliyah terdahulu (Murtadha Al Askari, Muqaddimah Mir’atu Al Uqul, 1/38) sampai-sampai matipun di lehernya dikalungi salib (Al Bayadhi, As Sirat Al Mustaqim, 3/50). Muawiyah itu lebih buruk dari Iblis (Al Hali, Minhajul Karamah, hal 116) sikap kezindikannya melebihi Iblis (Mamaqani, Tanqihul Maqal, 3/222). Ia benar-benar seorang pemimpin kesesatan (Ibnu Abi Al Hadid, Syarh Nahju Al Balaghah, 20/15) , Imam kekafiran (Al Murtadha, Asy Syafie, hal.287), Fir’aunnya Umat ini (Ash Shaduq, Al Khisal, 2/457-460) , munafik, keras kepala atau “ngeyel” terhadap Allah, Rasul dan kaum Mukminin. (Muhammad Jawwad Mughniyah, Asy Syi’ah wal Hakimun, hal. 39) Musuh keluarga Muhammad Shallalahu ‘Alahi wa Sallam terutama Ali Bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. (Mughniyah, Asy Syi’ah wal Mizan, hal 255). Ia mati dalam keadaan kafir sehingga ia kekal dineraka.
Mereka melandaskan tuduhan bahwa Mu’awiyah kekal dineraka pada sabda Rasul yang menurut mereka pernah mengatakan,” Allah memperlihatkan kepadaku Hari Kiamat dan huru-haranya dalam tidurku, jannah dan kenikmatannya, neraka berikut azab, aku melihat neraka tiba-tiba aku melihat Muawiyah Bin Abu Sufyan dan Amru Bin Al Ash sedang berdiri diatas bara jahanam dan kepalanya dilempari batu jahanam oleh malaikat Zabaniyah yang berkata kepada keduanya ,” Tidakkah kamu beriman pada kekuasaan Ali ‘Alaihi Salam?!”. (Al Bahrani, Al Burhan, 4/477-478)
Demikianlah setetes kejahatan Syi’ah terhadap para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semoga Allah Ta’ala hancurkan mulut-mulut mereka.
2. Sikap Kaum Khawarij
Tentang mereka, berkata Syaikh Muhammad Khalil Hiras sebagai berikut:
وَأَمَّا الْخَوَارِجُ ؛ فَقَدْ قَابَلُوا هَؤُلَاءِ الرَّوَافِضَ ، فَكَفَّرُوا عَلِيًّا وَمُعَاوِيَةَ وَمَنْ مَعَهُمَا مِنَ الصَّحَابَةِ ، وَقَاتَلُوهُمْ وَاسْتَحَلُّوا دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ .
“Ada pun Khawarij, mereka bertolak belakang dnegan syi’ah, mereka mengkafirkan Ali dan Mu’awiyah dan para sahabat yang mengikuti mereka berdua, mereka memeranginya, dan menghalalkan darah dan harta meraka (Ali dan Muawiyah serta pengikutnya, pen).” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 254)
Demikianlah, kaum Khawarij tidak mengkafirkan sebagian besar sahabat, hanya mengkafirkan para sahabat setekah peristiwa tahkim (arbitrase) pasca perang Shiffin antara kubu Ali yang diwakili Abu Musa Al Asy’ari melawan kubu Mu’awiyah yang diwakili oleh Amr bin Al ‘Ash. Mereka mengkafirkan orang-orang yang ikut peristiwa itu, lantara menurut mereka, para sahabat ini telah melakukan tahkim (menetapkan keputusan) dengan hukum buatan manusia (yakni Abu Musa dan Amr), karena menurut mereka Inil Hukmu Illa Lillah (hukum itu hanya milik Allah).
Jadi, lantaran peristiwa politik ini, berbuntut lahirnya dua gerakan teologi ekstrim, yakni Syi’ah (pengikut) Ali dan Khawarij (dari kata kharaja artinya keluar) yang mengkafirkan Ali. Sementara Ahlus Sunnah yakni jumlah mayoritas bersikap seadil-adilnya, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti.
3. Sikap Kaum Nashibi
Syaikh Said bin Ali Wahf Al Qahthani mengatakan:
“An Nawashib, mereka memproklamirkan permusuhan terhadap Ahli Bait dan melaknat apa-apa yang ada pada mereka.” (Syaikh Said bin Ali, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 59)
Mereka memusuh Ali, Fathimah, dan semua keturunannya. Perbedaannya dengan khawarij adalah khawarij selain Ahlul Bait dan pengikutnya, juga melaknat Muawiyah dan pengikutnya.
4. Sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah
Syaikh Muhammad Khalil Hiras mengatakan:
وَأَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ؛ فَكَانُوا وَسَطًا بَيْنَ غُلُوِّ هَؤُلَاءِ وَتَقْصِيرِ أُولَئِكَ ، وَهَدَاهُمُ اللَّهُ إِلَى الِاعْتِرَافِ بِفَضْلِ أَصْحَابِ نَبِيِّهِمْ ، وَأَنَّهُمْ أَكْمَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِيمَانًا وَإِسْلَامًا وَعِلْمًا وَحِكْمَةً ، وَلَكِنَّهُمْ لَمْ يَغْلُوا فِيهِمْ ، وَلَمْ يَعْتَقِدُوا عِصْمَتَهُمْ ؛ بَلْ قَامُوا بِحُقُوقِهِمْ ، وَأَحَبُّوهُمْ لِعَظِيمِ سَابِقَتِهِمْ وَحُسْنِ بَلَائِهِمْ فِي نُصْرَةِ الْإِسْلَامِ وَجِهَادِهِمْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
“Ada pun Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka golongan pertengahan antara yang mereka yang ekstrim dan mereka yang meremehkan. Allah telah memberikan mereka petunjuk untuk mengetahui keutamaan para sahabat nabi mereka, dalam umat ini mereka adalah yang paling sempurna keimanan, keislaman, keilmuan dan hikmah. Tetapi mereka tidak pernah melampaui batas terhadap para sahabat, tidak meyakini mereka memiliki ‘ishmah (bebas dari dosa), bahkan mereka bersikap sesuai hak para sahabat, mencintai mereka lantaran terdahulunya mereka dan bagusnya ujian mereka dalam membela Islam dan jihad mereka bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 254)
Syaikh Said bin Ali Wahf Al Qahthani mengatakan:
“Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah memberikan hidayah kepada mereka untuk tetap di atas kebenaran. Mereka bersikap tidak melampaui batas terhadap Ali Radhiallahu ‘Anhu dan Ahli bait, mereka tidak memusuhi para sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim, tidak mengkafirkannya, tidak pula bersikap seperti golongan Nawashib yang memusuhi Ahli bait.
Bahkan mereka mengetahui hak keseluruhan mereka dan keutamaannya, dan mengikuti mereka serta mengutamakan mereka sesuai urutannya; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Radhiallahu ‘Anhum. Dan mereka tidak mau memasuki apa-apa (perselisihan, pen) yang terjadi di antara sahabat. Maka, mereka (Ahlus Sunnah) pertengahan antara ekstrimitas rafidhah atau sikap keras khawarij. (Syaikh Said bin Ali, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 59)
Ahlus Sunnah senantiasa menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman mereka dalam hidup, termasuk dalam menyikapi kedudukan para sahabat Radhiallahu ‘Anhum. Ahlus Sunnah bersikap sebagaimana Al Quran dan As Sunnah bersikap.
Pujian Allah ‘Azza wa Jalla terhadap Para Sahabat
Allah Ta’ala berfirman:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا